Aksara, Basa, lan Sastra Bali

"Om Swastyastu, swasti prapta aturang titiang majeng ring para sameton blogger sami, durusang macecingak ring blog titiang, pinaka anggen jalaran masadu wirasa, mogi-mogi wenten pikenohnyane"

Sabtu, 31 Maret 2012

Kajian Struktural Cerpen Katemu ring Tampaksiring

KAJIAN STRUKTURAL 
CERPEN KATEMU RING TAMPAKSIRING


OLEH

I WAYAN JATIYASA, S.Pd

Kajian Struktural Cerpen Katemu ring Tampaksiring
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini akan diuraikan empat hal pokok yaitu : (1) latar belakang, (2) rumusan  masalah, (3) tujuan pengkajian, dan (4) ruang lingkup.

1.1        Latar Belakang
Keanekaragaman kebudayaan daerah merupakan aset kebudayaan nasional, karena kebudayaan nasional adalah perpaduan dari sari-sarinya kebudayaan daerah. Masing-masing daerah tentu mempunyai kebudayaan yang bermutu tinggi. Dalam rangka pembinaan dan pengembangan pada masyarakatnya, perlu adanya suatu kajian terhadap kebudayaan daerah Bali tersebut yang salah satunya adalah karya sastra Bali modern dalam bentuk cerpen.
Cerpen adalah suatu cerita yang mengisahkan tentang sebagian kecil dari kehidupan manusia. Keberadaan cerpen sebagai salah satu karya sastra diperkirakan muncul sekitar tahun 1970-an. Sebagian besar diantaranya merupakan hasil sayembara. Cerpen-cerpen pada babak permulaan dibuat atas dasar “mencoba-coba” dengan memadukan tradisi bercerita Bali dengan gaya bercerita dalam bahasa Indonesia. Dalam hal gaya, cerpen sastra Bali dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu cerpen dari pengarang yang berfungsi ganda (selain mengarang dalam bahasa Bali, juga mengarang dalam bahasa Indonesia), jelas sekali menunjukkan adanya pengaruh struktur cerpen Indonesia. Sebaliknya dari pengarang yang berfungsi tunggal (hanya mengarang dalam bahasa Bali), lahirlah cerpen yang sangat dipengaruhi oleh gaya bercerita Bali (Eddy, 1991:30).
Jadi, yang disebut cerpen Bali modern adalah suatu karangan cerita Bali yang tidak ada dalam karya sastra Bali klasik atau sastra tutur. Cerpen ini merupakan karangam yang ditulis berdasarkan keadaan “kekinian” dengan bentuk cerita yang pendek, meniru bentuk cerpen dalam sastra Indonesia. Adapun contoh cerpen Bali modern tersebut antara lain : Katemu Ring Tampaksiring, Ni Luh Sari, Bajang Kota, Relawan, Leak Lemahan, Tapak Dara lan Colek dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pada kesempatan ini penulis akan mengkaji cerpen yang berjudul Katemu Ring Tampaksiring buah karya Made Sanggra dengan menitikberatkan pada segi struktur instrinsiknya. Adapun judul paper yang penulis angkat yakni “Kajian Struktural dalam Cerpen Katemu Ring Tampaksiring”.
Dipilihnya Cerpen Katemu Ring Tampaksiring sebagai objek kajian ini, karena cerpen ini tergolong populer dan merupakan cerpen berbahasa Bali terbaik hingga kini karena keistimewaan latar cerita, tema, isi cerita, gaya bahasa, dan tokoh ceritanya yang multibangsa (dari bekas penjajah dan terjajah).

1.2        Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut, dapat dipetik permasalahan berkenaan dengan kajian ini, yaitu :
1.      Bagaimanakah struktur instrinsik dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring?

1.3        Tujuan Pengkajian
Sebuah penelitian ilmiah tentu memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Demikian juga hanya dengan kajian ini. Tujuan pengkajian ini dapat dibedakan atas tujuan umum dan tujuan khusus.

1.3.1        Tujuan Umum
Dari kajian cerpen ini penulis mengharapkan karya sastra Bali, terutama karya sastra Bali modern mendapat tempat yang baik di hati masyarakat Bali, sehingga masyarakat Bali tidak perlu lagi merasa sangsi akan eksistensi karya sastra Bali modern di tengah kuatnya karya sastra Bali klasik menguasai tata hidup masyarakat Bali. 

1.3.2        Tujuan Khusus
Sesuai dengan permasalahan yang dijabarkan dalam rumusan masalah, maka dapat dikemukakan tujuan khusus kajian ini adalah :
1.      Untuk dapat mengetahui struktur instrinsik dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring.

1.4        Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dimaksud adalah untuk membatasi ruang atau gerak dari kajian ini, sehingga terhindar dari penafsiran di luar dari kajian yang dilaksanakan. Oleh karena itu, pembahasan topik kajian ini dibatasi pada struktur instrinsik dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, yang meliputi : (1) alur, (2) plot, (3) insiden, (4) tokoh, (5) penokohan (perwatakan), (6) latar (setting), 7 ( tema), dan (8) amanat.



BAB II
LANDASAN TEORI
  
           
Setiap peneliti sudah semestinya mempunyai landasan teori tertentu sebelum melangkah lebih lanjut dalam suatu objek yang ingin dikaji ataupun dianalisisnya. Untuk mengetahui struktur dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, maka dianggap perlu kajian ini menggunakan landasan teori, yaitu teori struktural.

2.1         Teori Struktural
Yang dimaksud dengan teori struktural adalah teori sastra yang beranggapan bahwa semua karya sastra atau peristiwa dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena ada relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara bagian dan keseluruhan (Luxemburg, 1984:38). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang teori struktural, maka terlebih dahulu harus dipahami konsep struktur tersebut.
Menurut Sulastin-Sutrisno (1983:25), kajian struktur dapat membantu kajian-kajian yang lain dan sekaligus merupakan latihan permulaan untuk melangkah pada kajian selanjutnya. Pada prinsipnya, analisis struktur bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua analisis dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1988:135).
Kajian struktur dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring lebih tepat menggunakan teori struktural. Pemakaian teori struktural dilaksanakan berdasarkan pendekatan objektif, yaitu pendekatan sastra yang menekankan pada segi instrinsik (unsur dalam) karya sastra yang bersangkutan. Unsur ekstrinsik (unsur luar) dari teks, seperti riwayat pengarang dan pembaca tidak dibicarakan (Yudiono, 1986:53). Unsur-unsur instrinsik yang terkandung dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, yaitu alur, plot, insiden, tokoh, penokohan (perwatakan), latar (setting), tema, dan amanat, dalam memaparkannya membentuk suatu kesatuan yang bulat.



BAB III
PEMBAHASAN

3.1        Kajian Struktural dalam Cerpen Katemu Ring Tampaksiring
Pada bagian ini akan diuraikan berbagai masalah yang meliputi : (1) alur, (2) plot, (3) insiden, (4) tokoh, (5) penokohan (perwatakan), (6) latar (setting), (7) tema), dan (8) amanat. 

3.1.1        Alur
Alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Urutan peristiwa yang dimaksud adalah kesinambungan peristiwa yang logis antara peristiwa yang satu dengan yang lain, sehingga terdapatlah susunan cerita yang hidup dan problematik atau penuh persoalan. Dalam hal ini kelogisan peristiwa di atas harus mencerminkan hubungan sebab-akibat (Esten, 1987:26).
Sejalan dengan pendapat di atas, I Made Sukada menyatakan bahwa alur adalah suatu proses sebab akibat dari insiden dan berfungsi sebagai sistem yang menguji ketangguhan logika insiden dan mendukung, menyimpulkan kepada pembaca logis tidaknya insiden tersebut (1982:24).
Dari pendapat tentang alur di atas dapat ditarik kesimpulan atau pengertian, bahwa alur adalah suatu urutan peristiwa yang berkesinambungan dan mencerminkan hubungan sebab-akibat. Alur dapat dikatakan baik jika alur tersebut dapat membantu mengungkapkan tema dan amanat dari peristiwa-peristiwa serta adanya hubungan kausal yang wajar antara peristiwa yang satu dengan yang lainnya.
Ditinjau dari segi penceritaannya, alur dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu : (1) alur longgar, dan (2) alur sempit. Alur longgar sering juga disebut alur sorot balik atau flash back. Alur longgar yaitu jalannya cerita atau jalinan peristiwa dalam cerita yang tidak padu (melompat-lompat). Pengarang biasanya menggunakan alur ini, untuk menceritakan keadaan masa lalu dari para tokohnya. Alur sempit yaitu jalannya cerita atau jalinan peristiwa dari awal sampai akhir dalam cerita yang berkesinambungan, tanpa menceritakan ataupun mengisahkan kehidupan masa lalu para tokohnya.
Berdasarkan pemaparan di atas dan setelah menyimak tentang isi cerpen yang dikaji, maka penulis dapat mengetahui bahwa cerpen Katemu Ring Tampaksiring memakai alur longgar atau flash back. Di awal ceritanya, pembaca diajak berfantasi dengan cerita yang begitu menarik melalui tokoh-tokohnya. Namun setelah di pertengahan ceritanya, pengarang menggunakan alur longgar untuk mengubah jalannya cerita. Sehingga hal inilah yang menjadi kejutan dan daya tarik dari cerpen Katemu Ring Tampaksiring ini.
Cerpen ini dimulai kisahnya dengan kunjungan Ratu Juliana ke Bali yang disertai oleh beberapa wartawan Belanda termasuk Van Steffen (De Combosch). Rombongan tamu negara itu menginap di Istana Tampaksiring. Dalam mengisi waktu luangnya, Van Steffen yang tampan berjalan-jalan ke kedai seni (Art Shop) milik Ni Luh Rai di Tampaksiring. Pertemuan itu berlangsung akrab dan romantis.
Diceritakan pada suatu pagi, Van Steffen akan pergi bersama teman-temannya ikut serta dalam kunjungan Ratu Juliana ke Besakih. Akan tetapi, sebelum berangkat Van Steffen mampir terlebih dahulu ke kedai milik Ni Luh Rai. Ketika itu Ni Luh Rai sedang bersih-bersih. Ni Luh Rai sangat kagum melihat Van Steffen berpakaian rapi berbeda dari biasanya. Begitu pun Van Steffen kagum sekali melihat kecantikan Ni Luh Rai. Dalam perjalanan ke Besakih bersama teman-temannya, Van Steffen jarang sekali bicaranya. Dalam matanya selalu terbayang pada wajah Ni Luh Rai.
Sepulangnya dari Besakih, Van Steffen langsung tidur, tetapi matanya tidak bisa dipejamkan. Pikirannya menerawang. Kemudian Van Steffen bangun dari tempat tidurnya, menuju ke luar Pura Tirta Empul. Tetapi, karena di sana sangat sepi, kemudian Van Steffen pergi ke pancuran di halaman tengah. Dari sana Van Steffen memperhatikan mata air tirta empul yang berada di halaman utama Pura Tirta Empul itu.
Van Steffen melanjutkan perjalanannya menelusuri jalan setapak menuju rumah Ni Luh Rai. Di tengah jalan ia bertemu dengan anak kecil, melalui anak tersebut ditemukan rumah Ni Luh Rai. Ketika itu Ni Luh Rai sedang menghaturkan canang kajeng keliwon. Van Steffen sangat terpesona melihat Ni Luh Rai berbusana adat. Kemudian Van Steffen membuka percakapan sambil menyerahkan oleh-oleh dari Besakih.
Ketika akan berpamitan, Van Steffen dicegah dengan pertanyaan-pertanyaan Ni Luh Kompiyang yang mempertanyakan tentang identitas pribadinya. Karena secara terus menerus Van Steffen didesak dan dipojokkan oleh Ni Luh Kompiyang, akhirnya Van Steffen menceritakan tentang jati dirinya. Mendengar cerita tersebut, Ni Luh Kompiyang teringat akan masa lalunya, kemudian menceritakan semuanya kepada Van Steffen dengan disertai tangis.
Untuk menceritakan masa lalu Ni Luh Kompiyang itulah pengarang menggunakan alur longgar atau flash back.
Melalui alur flash back dikisahkan bahwa pada zaman pendudukan Belanda, Ni Luh Kompiyang menikah dengan Sersan De Bosch, opsir Belanda yang bertugas di bidang kesehatan. Pernikahan itu melahirkan seorang anak yang diberi nama Combosch, singkatan dari Kompiyang dan De Bosch. Pada waktu Combosch berumur tiga tahun, De Bosch pindah ke Bandung untuk melaksanakan tugas, tetapi Ni Luh Kompiyang menolak untuk ikut. Waktu itu ia sedang hamil. Suami istri itu pun cerai. De Bosch mengajak Combosch, dan Luh Kompiyang tinggal di Tampaksiring, yang kemudian melahirkan Ni Luh Rai. Combosch dibesarkan di Belanda dalam asuhan yayasan yatim piatu. Di yayasan yatim piatu itu namanya diganti menjadi Van Steffen.
Setelah panjang lebar Ni Luh Kompiyang menceritakan tentang masa lalunya, Van Steffen bengong dan  masih ragu dengan cerita Ni Luh Kompiyang. Untuk menghilangkan keragunnya Ni Luh Kompiyang akhirnya mengambil foto, dan foto yang sama juga dikeluarkan oleh Van Steffen. Kemudian pertemun antara ibu dan anak itu pun terjadi. Van Steffen dengan suara sesenggukan menangis memeluk ibunya (Ni Luh Kompiyang) dan Ni Luh Rai.

3.1.2        Plot
Plot adalah jalannya suatu cerita yang bersifat logis dan sistematis dalam suatu karya sastra. I Gusti Ngurah Bagus menyatakan bahwa, plot tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting adalah menggambarkan mengapa hal itu terjadi. Intisari dari plot adalah komplik, maka plot sering pula dikatakan trap atau dramatik (1989:46).
Plot merupakan rangkaian dari peristiwa-peristiwa yang terjadi karena adanya aksi tokoh-tokoh dalam cerita. Rangkaian peristiwa di dalam suatu karya sastra dikenal dengan lima rangkaian peristiwa, yaitu : (1) eksposisi, (2) konflikasi, (3) klimaks, (4) antiklimaks, dan (5) resolusi.

1.      Eksposisi
Eksposisi adalah proses penggarapan serta memperkenalkan informasi penting kepada pembaca. Melalui eksposisi, seorang pengarang mulai melukiskan atau memaparkan suatu keadaan, baik keadaan alam maupun tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita tersebut, serta informasi-informasi yang akan diberikan pengarang kepada para pembaca melalui uraian eksposisi tersebut.
Pada bagian eksposisi dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, pengarang memperkenalkan tentang keadaan tokoh utamanya, yaitu Van Steffen (De Combosch). Van Steffen selain ganteng ia pun fasih dalam berbahasa Indonesia. Perhatikan kutipan di bawah ini.
Cacep pisan tamiu punika ngraos Indonesia. Tabuhnyane caluh, sakewanten kadi uus kacunguh akedik, sakadi lumrah tatabuhan wangsa-wangsa Eropane lianan.

Terjemahan bebasnya :

Fasih sekali tamu itu berbicara Indonesia. Bicaranya sedikit lucu tetapi bagaikan berdesis ke hidung sedikit, seperti biasa prilaku orang-orang Eropa lainnya.

Petikan di atas menggambarkan kefasihan Van Steffen dalam berbicara bahasa Indonesia, dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, meskipun ia dibesarkan di Eropa.

2.      Konflikasi
Konflik adalah kejadian yang tergolong penting, merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan plot. Pengembangan plot sebuah karya sastra naratif akan dipengaruhi oleh wujud dan isi konflik, bangunan konflik yang ditampilkan. Konflik merupakan kejadian yang tidak menyenangkan yang dialami oleh para tokoh dalam suatu cerita.
Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya peristiwa satu dan yang lain. Ada peristiwa tertentu yang menimbulkan terjadinya konflik. Sebaliknya, karena terjadi konflik, peristiwa-peristiwa pun dapat bermunculan. Konflik dapat terjadi antara manusia melawan alam, manusia melawan manusia lainnya, dan manusia menghadapi dirinya sendiri. Konflik adalah sesuatu yang “dramatik” mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang, menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek, 1993:285).
Berdasarkan pandangan di atas, maka dapat diketahui konflik yang dialami oleh para tokohnya dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring. Pada bagian konflikasi, dialami oleh Van Steffen dengan Ni Luh Kompiyang, ketika mempertanyakan identitas Van Steffen. Konflik ini terjadi pada saat Van Steffen ke rumah Ni Luh Rai. Untuk jelasnya, perhatikan kutipan berikut :
“Tuan yang dari Belanda?!” Asapunika pitakennyane sada kikuk kapiragi sinambi dane ngambil kursi tur malinggih.
“Betul Ibu….” Saur Van Steffen sada gugup.
“Siapa… Tuan punya nama?” Sapunika pitakennyane malih. Ni Luh Rai dahat kimud ring manah, santukan tabuh memenyane kikuk pisan.
“Sssssssssaya, Bu, nama saya De Combosch..., eh… Bukan…nama saya Van Steffen, Bu” Saur Van Steffen ngreget megat-megat sada ngejer gugup. Nembenin ipun maderbe manah runtag kadi punika.
Men Ni Luh Rai bengong, liatnyane joh sawat kadi doh manahnyane nrawang. Sasampune sue bengong, raris acreng nlektekang Van Steffen munggah tedun, tumuli matakon malih.
“Jadi,...Tuan dua nama?” Asapunika pitaken Men Luh Rai malih. Ni Luh Rai madukan ring manahnyane santukan kimud miragiang pitaken memennyane kadi pitaken anak alit cucud pisan.
“Bukan,…eb, eb, eb, bukan ibu!” Van Steffen maweweh gugup. Makanten muannyane baag biing.

Terjemahan bebasnya :
““Tuan yang dari Belanda?!” Begitu pertanyaannya dengan kikuk didengar sambil ia mengambil kursi dan duduk.
“Betul Ibu...” Jawab Van Steffen gugup.
“Siapa… Tuan punya nama?” Begitu pertanyaannya lagi. Ni Luh Rai sangat dalam pikirannya karena perilaku ibunya kikuk sekali.
“Sssssssssaya, Bu, nama saya De Combosch..., eh... Bukan...nama saya Van Steffen, Bu” Jawab Van Steffen tersendat putus-putus dengan bergetar gugup. Tumben ia mempunyai prilaku resah seperti itu.
Ibu Ni Luh Rai bengong, pandangannya jauh seperti jauh pikirannya menerawang. Sesudah lama bengong lalu dengan seksama melihat Van Steffen naik turun, lalu bertanya lagi.
“Jadi,…Tuan dua nama?” Begitu pertanyaan Ibu Luh Rai lagi. Ni Luh Rai mendesah dalam pikirannya karena malu mendengarkan pertanyaan ibunya seperti pertanyaan anak kecil kritis sekali.
“Bukan,...eb, eb, eb, bukan ibu!” Van Steffen bertambah gugup. Terlihat mukanya merah padam.

Petikan di atas melukiskan konflik yang terjadi antara tokoh dengan dirinya sendiri dan tokoh dengan tokoh (manusia) lainnya. Konflik tersebut terjadi antara Van Steffen dengan Ni Luh Kompiyang dan dengan diri mereka.

3.      Klimaks
Klimaks adalah konflik yang meruncing sampai pada titik puncak. Meningkatnya klimaks disebabkan oleh konflik demi konflik dalam suatu cerita yang disusul oleh peristiwa-peristiwa di dalam satu alur. Pada klimaks biasanya terjadi suatu perubahan penting atau crucial shift dalam nasib, sukses tidaknay sosok tokoh utama dalam cerita tersebut.
Dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, setelah konflik yang terjadi antara Van Steffen dengan Ni Luh Kompiyang, cerita pun berlanjut pada klimaksnya. Ni Luh Kompiyang berhasrat sekali mengetahui jati diri Van Steffen. Dengan kata-kata Ni Luh Kompiyang yang memojokkannya, akhirnya ia pun menceritakan tentang jati dirinya tersebut. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah ini.
“Saya harap Tuan jangan dusta. Setiap agama melarang umatnya berdusta. Barangkali juga agama Tuan? “Sapunika Men Luh Rai sakadi lancar tur seken, kadi wenten anak mituduhang dane uning nabdab raos kadi punika.
Sue Van Steffen nek ten dados ngucap. Peluhnyane medal paturibis, kulungannyane empet kadi sampetin bias asangkop.

Terjemahan bebasnya :
“Saya harap Tuan jangan dusta. Setiap agama melarang umatnya berdusta. Barangkali juga agama Tuan? “Begitu Men Luh Rai seperti lancar dan pasti, seperti ada orang yang menyuruh ia tahu menyiapkan omongan seperti itu.
 Lama Van Steffen diam tidak bisa berbicara. Keringatnya keluar bercucuran, kerongkongannya tertutup bagaikan disumbat pasir seraup.

Petikan di atas melukiskan emosional Ni Luh Kompiyang yang ingin mengetahui jati diri Van Steffen, sehingga menyebabkan Van Steffen tidak berdaya dibuatnya.

4.      Antiklimaks
Antiklimaks adalah menurunnya suatu klimaks dalam suatu cerita. Dalam antiklimaks, kejadian yang tadinya meruncing karena aksi tokoh-tokohnya akan mereda atau mengalami kemerosotan, hal tersebut disebabkan adanya suatu kejadian atau peristiwa baru di antara tokohnya.
Seiring dengan jalannya cerita dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, maka antiklimaksnya dapat dilihat pada kutipan berikut :
Durung puput Van Steffen nuturang indiknyane, Men Luh Rai macepol sinambi asasambat.
“Aduh, Dewa Ratu...” Men Luh Rai ulun atinnyane nek tan dados ngucap malih. Yeh peningalannyane nrebes medal nuut kisut pipinnyane.
“Cening Combos” Asapunika Men Luh Rai ngangsehang ngraos, tur ngelut baong ipun Van Steffen. Van Steffen nyerah tan molah.

Terjemahan bebasnya :
Belum selesai Van Steffen menceritakan tentang dirinya, Men Luh Rai jatuh sambil sesenggukan.
“Aduh, Dewa Ratu...” Men Luh Rai hatinya sedih tidak dapat berkata lagi. Air matanya bercucuran keluar membasahi pipinya yang keriput.
“Anakku Combos” Begitu Men Luh Rai memaksakan berbicara, dan memeluk lehernya Van Steffen. Van Steffen diam tidak bergerak.
Petikan di atas menggambarkan rasa bahagia Ni Luh Kompiyang yang diungkapkan dengan tangis, ketika ia mengetahui bahwa Van Steffen sebenarnya adalah anaknya.

5.      Resolusi
Resolusi adalah bagian akhir dari suatu fiksi. Melalui resolusi inilah sang pengarang memberikan pemecahan masalah dari semua peristiwa yang terjadi. Dengan kata lain, sesuatu yang memberikan pemecahan terhadap jalannya suatu cerita.
Berdasarkan uraian di atas, maka resolusi dari cerpen Katemu Ring Tampaksiring dapat dilihat pada kutipan di bawh ini.
Van Steffen bengong tan makijapan. Nanging ring manah nyane kantun bingbang mabari-bari. Men Luh Rai uning ring cestakara, tumuli digelis ngambil potrekan Van Steffen dawege kantun alit kaapit oleh meme miwah bapannyane. Sakadi wenten malingetin, eling Van Steffen ring makta potrekan ring dompetnyane. Potrekan punika gelis kaambil kaanggen nyocokang. Ngantenang punika Van Steffen minger-minger ring manah tur negtegang bayunnyane.

Terjemahan bebasnya :
Van Steffen bengong tidak berkedip. Namun, hatinya masih bimbang, kian bimbang. Men Luh Rai (Ni Luh Kompiyang) sadar akan isyarat itu, lalu segera mengambil foto Van Steffen ketika kecil diapit oleh ibunya dan bapaknya. Bagaikan ada yang mengingatkan, sadar Van Steffen juga membawa foto di dompetnya. Foto tersebut segera diambilnya untuk dicocokkan. Akhirnya dilihatlah bahwa tidak berbeda sedikit pun. Menyaksikan hal tersebut, Van Steffen berdebar-debar di hati lalu berusaha untuk menenangkannya.

Petikan di atas melukiskan bahwa Van Steffen masih ragu tentang apa yang telah dikatakan oleh Ni Luh Kompiyang. Kemudian untuk menghilangkan keraguan Van Steffen, maka Ni Luh Kompiyang mengambil foto, dan foto yang sama juga dikeluarkan oleh Van Steffen. Kutipan di atas menunjukkan pemecahan masalah dari semua peristiwa yang telah terjadi dan sekaligus sebagai penyelesaian masalah dari plot cerita tersebut.

3.1.3        Insiden
Insiden adalah suatu kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam suatu cerita. Karena dalam suatu cerita, yang penting bukanlah hasil akhirnya tetapi kejadian atau peristiwa yang ada dalam peristiwa tersebut (Wellek, 1993:281).
Insiden terjadi karena adanya gerakan dan tindakan dalam situasi dan juga karena adanya pelaku yang bertindak. Insiden biasanya mengekspresikan tokoh-tokoh cerita yang berhubungan erat dengan alam dan manusia. Insiden ini harus berkembang sambung menyambung secara kausal, yang satu berhubungan dengan yang lainnya sampai cerita berakhir.
Dalam cerita Katemu Ring Tampaksiring, terdapat beberapa insiden yang terkandung dalam alur ceritanya. Adapun insiden tersebut adalah sebagai berikut.
Insiden pertama, yaitu kunjungan Ratu Juliana dari Kerajaan Belanda datang ke Tampaksiring yang disertai para wartawan. Hal ini dapat kita simak pada kutipan di bawah ini.
Sakadi nyawane ngababin, paseliab para wartawan Belandane ngungsi pancoran ring jaba Pura Tirta Empul punika, saha motrek anak kayeh miwah masiram. Daweg punika waune pisan Ratu Juliana saking Kerajaan Belanda saha pengiringnyane rauh ring Istana Tampaksiring…

Terjemahan bebasnya :
Bagaikan tawon yang berterbangan, berhamburan para wartawan Belanda itu menuju pancuran di luar Pura Tirta Empul tersebut, dan memoto orang yang mandi. Pada waktu itu baru saja Ratu Juliana dari kerajaan Belanda dan pengikutnya tiba di Istana Tampaksiring…

Petikan di atas menggambarkan bahwa di pancuran Pura Tirta Empul sangat ramai oleh para wartawan Belanda yang ingin memoto orang mandi.
Insiden kedua, yaitu Van Steffen bersama dengan teman-temannya ikut dengan Ratu Juliana  ke Besakih. Dalam perjalanannya ke Besakih, Van Steffen jarang sekali berbicara. Karena dalam matanya selalu terbayang wajahnya Ni Luh Rai. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan berikut :
Sapamargin Van Steffen lan timpal-timpalnyane ngiring Ratu Juliana ke Besakih Van Steffen langah pisan raosnyane. Sajeroning paningalannyane satata marawat matra rupan ipun Ni Luh Rai. Timpal-timpalnyane sami ngedekin Van Steffen…

Terjemahan bebasnya :
Sepanjang perjalanan Van Steffen dan teman-temannya mengikuti Ratu Juliana ke Besakih Van Steffen jarang sekali bicaranya. Dalam matanya selalu terbayang-bayang samar-samar wajahnya Ni Luh Rai. Teman-temannya semua menertawai Van Steffen…

Petikan di atas menggambarkan Van Steffen yang diam selama perjalanan ke Besakih, sehingga ditertawai oleh teman-temannya.
Insiden ketiga, Van Steffen tidak bisa tertidur seperti teman-temannya yang lain, ketika sepulangnya dari Besakih. Pikirannya menerawan kagum pada kemegahan Pura Besakih yang baru dikunjunginya itu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah ini.
Ngawit wau rauh saking Besakih ipun masare, nanging tan dados sirep. Timpalnyane sami pada ngrok engkis-engkis, wenten malih sane geroh-geroh kadi celenge kagorok. Lian malih wenten sane ipit, kadi buduhe katundik. Nanging Van Steffen kedat tan makijapan, rerambangannyane ngramang sawang. Angob ipun ngemanahin kewibawan Pura Besakih punika.

Terjemahan bebasnya :
Berawal baru sampai dari Besakih ia tidur, tetapi tidak bisa tertidur. Temannya semua tertidur lelap, ada juga yang mengorok seperti babi yang disembelih. Lain lagi ada yang mengigau, bagaikan orang gila yang disentuh. Tetapi Van Steffen melek tidak berkedip, pikirannya menerawang. Kagum ia memikirkan kewibawaan (kemegahan) Pura Besakih tersebut.

Petikan di atas menggambarkan kekaguman Van Steffen pada kemegahan Pura Besakih, sehingga ia tidak bisa tidur memikirkannya, sedangkan teman-temannya tertidur lelap bahkan ada yang sampai ngorok.
Insiden keempat, Van Steffen bangun dari tempat tidurnya, kemudian dengan segera menelusuri komplek istana menuju Pura Tirta Empul. Keadaan di sana sangat sepi, sehingga Van Steffen melanjutkan langkahnya menuju pancuran di luar pura itu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah ini.
Tan dumade Van Steffen bangun saking pasareannyane, tur gelis nyaluk pengangge, tumuli nedunang saking komplek istana nuju jaba pura Tirta Empule. Suwe ipun kipak-kipek ring arepe kios ipun Ni Luh Rai sane sedek matutup sepi ngucung-ucung ipun ngungsi pancorane ring jaba tengah. Daweg punika sedek sepi kadi jampi. Tan wenten anak kayeh wiadin masiram. Van Steffen nampekin pancorane, tumuli toyane kaketis-ketisang sakadi alit-alit pangangone makocel-kocelan.

Terjemahan bebasnya :
Tiba-tiba Van Steffen bangun dari tempat tidurnya, dan cepat memakai pakaian, lalu turun dari komplek istana menuju luar pura tirta empul. Lama ia menoleh kiri kanan di depan art shop milik Ni Luh Rai yang sedang tutup sepi sekali. Van Steffen malu-malu dan tidak tentu arah. Kemudian tergesa-gesa ia menuju pancoran di halaman tengah. Ketika itu sedang sunyi senyap. Tidak ada orang yang mandi. Van Steffen mendekati pancuran, lalu airnya diciprat-cipratkan seperti anak-anak gembala bermain-main.
Petikan di atas melukiskan keadaan Van Steffen yang tidak tentu arah tujuannya, sehingga ia pun menjadi salah tingkah karena suasana yang sepi itu.
Insiden kelima, Van Steffen pergi ke rumah Ni Luh Rai, melalui seorang anak kecil yang sedang menyabit rumput. Di rumah itulah akhirnya terjadi dialog yang panjang lebar antara Van Steffen dan Ni Luh Kompiyang (ibunya). Ni Luh Kompiyang mengingat tentang masa lalunya ketika di Carangsari, kemudian menanyakan tentang identitas Van Steffen. Melalui keterangan Van Steffen tersebut, diketahuilah bahwa Van Steffen adalah anaknya. Pertemuan yang mengharukan antara ibu dan anak itu pun terjadi. Van Steffen memeluk kaki ibunya sambil menangis. Ni Luh Kompiyang pun memeluk Van Steffen dengan penuh kasih sayang disertai tangis yang tidak terbendung.
Dengan berakhirnya insiden yang kelima ini, maka berakhir pula kajian tentang insiden dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring.

3.1.4        Tokoh
Tokoh adalah para pelaku yang memegang peranan dalam suatu karya sastra. Mursal Esten mengatakan bahwa tokoh cerita memegang peran penting dalam penceritaan. Umumnya jumlah tokoh atau pelaku dalam suatu cerita tidak dapat dipastikan. Biasanya tokoh lebih dari satu orang dengan watak yang berbeda. Hal inilah yang memungkinkan terciptanya konflik-konflik sehingga cerita akan menarik bagi pembaca atau pendengarnya. Tokoh-tokoh hadir dalam peristiwa dan bahkan peristiwa terjadi karena aksi tokoh-tokoh (1984:41).
Di dalam suatu karya sastra, pada umumnya tokoh dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh komplementer. Tokoh protagonis, yaitu tokoh utama dalam suatu karya sastra. Tokoh protagonis merupakan tokoh yang dominan diceritakan di dalam suatu cerita. Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menjadi lawan dari tokoh protagonis. Tokoh komplementer, yaitu tokoh yang menjadi pendukung (pelengkap) tokoh protagonis dan tokoh antagonis di dalam suatu karya sastra.
Di dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring menggunakan dua tokoh, yaitu tokoh protagonis dan tokoh komplementer. Tokoh protagonisnya adalah Van Steffen (De Combosch). Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh ini berhubungan dengan masalah, berhubungan dengan tokoh lain, dan paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Sedangkan tokoh komplementernya adalah Ni Luh Rai, Ni Luh Kompiyang dan Sersan De Bosch. Untuk lebih jelasnya tentang tokoh protagonis dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, di bawah ini akan diuraikan sedikit gambaran yaitu sebagai berikut :
Van Steffen (De Combosch) adalah seorang wartawan Belanda yang ikut serta bersama dengan teman-temannya dalam kunjungan Ratu Juliana ke Bali. Di dalam alur sorot baliknya (flash back) diceritakan bahwa Van Steffen adalah anak dari Sersan De Bosch dan Ni Luh Kompiyang. Namun, sesudah Sersan De Bosch dipindahtugaskan ke Bandung, De Combosch dibesarkan di Belanda dalam Yayasan Pemeliharaan Anak Yatim Piatu. Di yayasan itulah namanya diganti menjadi Van Steffen. Perhatikan kutipan berikut :
...Sadaweg alit ipun kapiara ring Yayasan Pemeliharaan Anak Yatim Piatu ring Rotterdam, Negeri Belanda…
Sadaweg alit ipun mawasta De Combosch, nanging sasampune kelih kagentosin wasta olih direktur yayasan punika, kawastanin Van Steffen…
  
Terjemahan bebasnya :

...Sejak kecil ia dibesarkan di Yayasan Pemeliharan Anak Yatim Piatu di Rotterdam, Negara Belanda…
Pada waktu kecil ia bernama De Combosch, tetapi sudah besar diganti namanya oleh direktur yayasan itu, diberi nama Van Steffen…

Ketika masih di Belanda, Van Steffen diceritakan pernah mengikuti kursus bahasa Indonesia kepada mahasiswa Indonesia yang ada di Belanda. Sehingga dalam kunjungannya ke Bali, ialah yang menjadi penterjemah ketika bersama dengan teman-teminnya yang banyak berjejer di luar Pura Tirta Empul. Sampai di depan art shop milik Ni Luh Rai…

Tokoh komplementer yang kedua yakni Ni Luh Kompiyang. Ni Luh Kompiyang adalah istri dari Sersan De Bosch serta ibu dari Ni Luh Rai dan Van Steffen (De Combosch). Dalam alurnya diceritakan bahwa pada waktu masih gadis, Ni Luh Kompiyang pernah ke Carangsari untuk mencari kerja “maderep”, hingga akhirnya bertemu dengan Sersan De Bosch. Perhatikan kutipan berikut :
...eling ring indike nguni daweg jagate terak sayah, dane sareng timpal-timpalnyane ngrereh karya maderep ka Gunung Carangsari. Duk punika dane wau munggah daa…
Luh Kompiyang kalih timpal-timpalnyane sami jenek ring Carangsari. Daweg tentara Gajah Merahe biuk ring Carangsari yen asapunapi jua indike Ni Luh Kompiyang keni kecantol olih Tuan De Bosch.

Terjemahan bebasnya :

…ingat tentang keadaan dulu waktu bumi krisis packelik, ia ikut dengan teman-temannya mencari kerja maderep ke Gunung Carangsari. Ketika itu ia baru beranjak dewasa…
Luh Kompiyang dan teman-temannya semua tinggal di Carangsari. Pada waktu tentara Gajah Merah berkuasa (menduduki) di Carangsari entah bagaimana juga kejadiannya Ni Luh Kompiyang dapat tertarik oleh Tuan De Bosch.

Tokoh komplementer yang ketiga, yaitu Sersan De Bosch. De Bosch adalah Sersan Kesehatan Tentara Gajah Merah. Pada waktu bertugas di Carangsari, Sersan De Bosch menikah dengan Ni Luh Kompiyang. Buah cintanya dengan Ni Luh Kompiyang tersebut, yaitu De Combosch. Akan tetapi, pada waktu De Combosch berumur kira-kira tiga tahun, De Bosch dipindahtugaskan ke Bandung dengan menyertakan De Combosch serta meninggalkan Ni Luh Kompiyang ketika itu sedang hamil muda. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan berikut :
Nampek panumayan pengakuan kedaulatan, Sersan De Bosch polih perintah saking pangagengnyane mangda pindah ka Bandung. Indik punika ngranayang Sersan De Bosch brangti saha ninggalin Luh Kompiyang ring Tampaksiring sane daweg punika sedek mobot alit. Nanging pianaknyane sane daweg punika wau mayusa tigang tiban kirang langkung. Kaajak brangkat pindah ka Bandung.

Terjemahan bebasnya :

Dekat Janji Pengakuan Kedaulatan, Sersan De Bosch mendapat perintah dari atasannya agar pindah ke Bandung. Keadaan itu menyebabkan Sersan De Bosch sangat kecewa, dan meninggalkan Luh Kompiyang di Tampaksiring yang pada waktu itu sedang hamil muda. Tetapi anaknya yang ketika itu baru berusia kurang lebih tiga tahun, diajak berangkat pindah ke Bandung.
Kemudian dalam alur flash back atau longgarnya, diceritakan bahwa Sersan De Bosch gugur dalam perang di Lembang, Bandung. Hal ini dapat diketahui dari penuturan direktur yayasan yatim piatu kepada Van Steffen, ketika dia masih di Rotterdam, Belanda. Perhatikan kutipan di bawah ini.
Saking direktur yayasan punika ipun polih keterangan, yening pecak bapan ipun dados anggota Tentara Kerajaan Belanda, padem mayuda ring Lembang, Bandung.

Terjemahan bebasnya :

Melalui direktur yayasan itu ia memperoleh keterangan, kalau dulu bapaknya menjadi anggota Tentara Kerajaan Belanda, gugur berperang di Lembang Bandung.

3.1.5        Penokohan (Perwatakan)
Penokohan (perwatakan) adalah karakter dari masing-masing tokoh dalam karya sastra. Menurut I Gusti Ngurah Bagus, penokohan adalah gambaran watak para pelaku yang sering disebut dengan tokoh berupa manusia atau kadang-kadang binatang atau yang lainnya yang dapat bertindak sebagai pelaku. Pengarang melukiskan watak para tokoh dalam karyanya, dengan maksud menghidupkan tema ceritanya.
M.S. Hutagalung menyatakan, bahwa perwatakan tokoh, yaitu fisiologis, psikologis dan sosiologis. Oleh karena itu, suatu perwatakan dapat diterima secara wajar kalau ia dapat dipertanggungjawabkan secara sudut fisiologis, sudut psikologis dan sudut sosiologis (1968:63).
Kajian tentang penokohan (perwatakan) dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring meliputi tokoh protagonis, yaitu Van Steffen (De Combosch) dan tokoh komplementer yaitu Ni Luh Rai, Ni Luh Kompiyang dan Sersan De Bosch.

1.      Tokoh Protagonis
Kajian terhadap tokoh protagonisnya yakni Van Steffen yang dilihat dari sudut fisiologis, ia digambarkan sebagai seorang yang tampan. Hal ini dapat disimak pada kutipan di bawah ini.
Duk punika Van Steffen ngangge stelan jas putih bersih, ngangge dasi kupu-kupu pelung dongker. Tenar bingar pakantennyane Van Steffen semeng punika. Gumanti Van Steffen makanten gagusan yen saihang ring timpal-timpalnyane.

Terjemahan bebasnya :

Ketika itu Van Steffen menggunakan stelan jas putih bersih, menggunakan dasi kupu-kupu biru dongker. Riang gembira kelihatannya Van Steffen pagi itu. Memang Van Steffen terlihat lebih tampan jika dibandingkan dengan teman-temannya.

Selain itu, secara fisiologis Van Steffen juga digambarkan sebagai orang yang berpostur tubuh orang Asia. Perhatikan kutipan berikut :
Pangadeg ipun nyepek nyempaka, nenten ja landung agul-agul kadi timpalnyane lianan. Paningalan miwah boknyane selem, nanging timpal-timpal ipune mapaningalan pelung tur mabok jagung.

Terjemahan bebasnya :
Perawakannya tinggi semampai, tidaklah tinggi gagah seperti temannya yang lain. Mata dan rambutnya hitam, tetapi teman-temannya bermata biru dan berambut jagung.

Petikan di atas melukiskan bahwa Van Steffen mempunyai bentuk tubuh dan ciri-ciri orang Asia, yaitu perawakannya tinggi semampai, mata dan rambut hitam yang membedakannya dengan teman-teman Eropanya.
Secara psikologis, Van Steffen digambarkan sebagai orang yang senang membaca. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah ini.
Yening Van Steffen sedek sareng ring timpal-timpalnyane ipun sane dados juru basa, santukan ipun naen kursus basa Indonesia ring mahasiswa Indonesia sane wenten ring Negeri Belanda. Samaliha ipun oneng memaca buku-buku indik Indonesia, miwah satua-satua pawayangan.

Terjemahan bebasnya :
Kalau Van Steffen sedang dengan teman-temannya, ia yang menjadi penterjemah, karena ia pernah kursus bahasa Indonesia kepada mahasiswa Indonesia yang ada di Negara Belanda. Lagi pula ia senang membaca buku-buku tentang Indonesia, dan cerita-cerita pewayangan.

Petikan di atas melukiskan bahwa Van Steffen senang membaca buku-buku, terutama tentang Indonesia dan cerita-cerita pewayangan. Selain itu, Van Steffen juga digambarkan sebagai orang yang memahami nasihat orang suci (pemangku) tentang cerita masyarakat Bali. Untuk jelasnya, perhatikan kutipan berikut.
Duk punika eling ipun ring piteket Dane Jro Mangku, mungguing manut ucap lontar Ushana Bali, klebutan Tirta Empule punika gumanti sangkaning pangredanan Ida Batara Indra daweg payudan arepe ring Sri Aji Mayadenawa. Sang Mayadenawa kaon ring payudan, rahnyane membah dados toya Tukan Petanu, muah layonnyane dados taulan ring Pangkung Patas, kaler-kauhan Tampaksiring. Asapunika tutur dane Jro Mangku, keni karesepang pisan olih ipun Van Steffen.

Terjemahan bebasnya :
Pada waktu itu ingat ia akan nasihat Jro Mangku, seperti yang termuat di dalam Lontar Ushana Bali, mata air tirta empul itu merupakan hasil ciptaan Ida Batara Indra ketika berperang melawan Sri Aji Mayadenawa. Sang Mayadenawa gugur dalam peperangan, darahnya mengalir menjadi air Sungai Petanu, dan mayatnya menjadi taulan di Pangkung Patas, barat laut Tampaksiring. Begitu cerita Jro Mangku, dapat dipahami sekali oleh Van Steffen.

Dari sudut sosiologisnya, bahwa Van Steffen digambarkan sebagai orang yang haus akan kasih sayang orang tua. Untuk jelasnya, perhatikan kutipan berikut.
Sasampune ipun polih negtegang manah, las manahnyane nuturang sapariindik sikian ipune. Ipun nenten uning ring meme bapa, sadaweg alit ipun kapiara ring Yayasan Pemeliharaan Anak Yatim Piatu ring Rotterdam, Negeri Belanda.
Terjemahan bebasnya :

Sesudah ia dapat menenangkan pikirannya, sedih hatinya menceritakan tentang dirinya. Ia tidak tahu ibu dan bapak, dari kecil ia dirawat di Yayasan Pemeliharaan Anak Yatim Piatu di Rotterdam, Negara Belanda.

Petikan di atas melukiskan bahwa Van Steffen adalah orang yang kurang kasih sayang dari orang tuanya, bahkan sampai tidak mengetahui ibu dan bapaknya. Hal tersebut disebabkan karena dari kecil ia dibesarkan dalam Yayasan Yatim Piatu di Rotterdam, Belanda.

2.      Tokoh Komplementer
Dalam kajian tokoh komplementer, penulis akan uraikan satu persatu penokohan (perwatakan) dalam tokohnya. Penokohan pertama yang akan penulis uraikan yakni penokohan Ni Luh Rai.
Pandangan dari sudut fisiologis, Ni Luh Rai digambarkan sebagai gadis berambut panjang. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan berikut.
Sangkaning gegesonannyane, kandugi Ni Luh Rai nyerod nyalempok. Pusungannyane embud, kanten boknyane magambahan selem blayag, mapaid rauh soring silitnyane.
Terjemahan bebasnya :

Karena terburu-buru, tiba-tiba Ni Luh Rai jatuh bersimpuh. Sanggulnya lepas, terlihat rambutnya terurai hitam bagaikan blayag lepas, terseret sampai di bawah pantatnya.

Petikan di atas melukiskan bahwa Ni Luh Rai mempunyai rambut panjang dan hitam terurai sampai di bawah pantatnya. Selain memiliki rambut yang panjang, Ni Luh Rai juga digambarkan memiliki beris yang indah. Perhatikan kutipan berikut.
Wastrannyane nyangsot munggah ngasab entud, kanten betekan batisnyane mamudak putih gading, ngawe sumerah rah sang ngantenang.

Terjemahan bebasnya :

Kainnya membalut naik sampai ke lutut, terlihat betisnya bagaikan pudak yang berwarna kuning langsat, membuat bergelora darah orangn yang melihat.

Petikan di atas melukiskan bahwa Ni Luh Rai memiliki betis bagaikan pudak yang berwarna kuning langsat sehingga siapa pun yang melihat akan tergoda olehnya. Selain itu, Ni Luh Rai juga digambarkan sebagai gadis yang berlesung pipit. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan berikut.
Van Steffen gelis nyanyut ngambil lengen ipun Ni Luh Rai. Ni Luh Rai kenyem kimud, kanten sujenannyane ring pipi kiwa, maweweh manis pakantennyane.

Terjemahan bebasnya :

Van Steffen cepat mengambil lengannya Ni Luh Rai. Ni Luh Rai tersenyim malu, terlihat lesung pipitnya pada pipi kiri, bertambah manis kelihatannya.

Pandangan dari sudut psikologis, Ni Luh Rai digambarkan sebagai seorang gadis yang mandiri. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.
…Warung lan kios-kios sane wenten ring jaba Pura Tirta Empul punika kantun matutup. Wenten asiki mabukak kios ipun Ni Luh Rai kemanten. Ni Luh Rai sedek nyapu mabersih-bersih. Saking alit kumalenjeng ipun sampun malajah madolan togog, nanging tan taen ipun matanja kadi dagang-dagange lianan.

Terjemahan bebasnya :
...Kedai dan kios-kios yang ada di luar Pura Tirta Empul itu masih tertutup. Ada satu yang buka kiosnya Ni Luh Rai saja. Ni Luh Rai sedang bersih-bersih. Dari kecil baru beranjak remaja ia sudah belajar berjualan patung, tetapi tidak pernah ia menjajakan seperti pedagang-pedagang yang lain.

Petikan di atas melukiskan bahwa Ni Luh Rai sudah belajar berjualan patung sejak baru beranjak remaja. Selain mandiri, Ni Luh Rai juga digambarkan sebagai gadis yang pintar dalam berbusana adat. Perhatikan kutipan di bawah ini.
Duk punika ipun lan mabaju, masesenteng songket barak nguda mabunga banyumas tatununan Amlapura. Mungguing kambennyane endek cap togog Gianyar, madasar pelung langit mapinggiran mapinda kayonan majajar-jajar. Pupur miwah alis-alisnyane tipis nyramat, ngranayang nlektekang sang ngantenang. Lipstik nyane barak api tur masrinata lan masemi kadi sasenengan para anom sane matuuh kadi ipun. Samaliha pusungannyane mapinda angka kutus, masumpang jepun putih masusun remawa barak, ngawe maweweh abra rupannyane tur maprabawa agung. Angob Van Steffen ngantenang indik kauningan ipun Ni Luh Rai ngadungang payas.

Terjemahan bebasnya :
Ketika itu ia tidak memakai baju, berselendang songket merah muda berbunga banyumas tenunan Amlapura. Sedangkan kainnya endek lambang patung Gianyar, dengan dasar biru langit berpinggiran berlambang pepohonan berjejer. Bedak dan alis-alisnya tipis terlihat, menyebabkan memperhatikan orang yang melihat. Lipstiknya merah api dan berponi seperti kesenangan para remaja yang seusianya. Serta sanggulnya berbentuk angka delapan, berisikan bunga kamboja putih bersusun mawar merah, menjadi bertambah cantik parasnya dan berwibaw agung. Kagum Van Steffen melihat tentang kepintaran Ni Luh Rai memadukan hiasan (busana).

Petikan di atas melukiskan bahwa Ni Luh Rai begitu pintar dalam memadukan busana dan hiasan yang dipakainya. Pandangan dari sudut psikologisnya, Ni Luh Rai juga digambarkan sangat pintar membawa diri. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan berikut.
...katah para trunane mabudi ring Ni Luh Rai, santukan sing solahang ipun nudut kayun, nanging sami kimud manyewaka, santukan Ni Luh Rai dahat seleb makta raga.


Terjemahan bebasnya :
…Banyak para pemuda berkeinginan kepada Ni Luh Rai, karena semua yang dilakukannya menarik hati, tetapi semua malu mengatakan, karena Ni Luh Rai sangat pintar membawa diri.

Petikan di atas melukiskan kepintaran Ni Luh Rai dalam membawa diri, sehingga menyebabkan para pemuda tersebut malu dibuatnya.
Pandangan dari sudut sosiologis, Ni Luh Rai digambarkan tinggal di tengah ladang yang asri. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada kutipan berikut.
Sakadi wenten mituduhang, ring tengahing margi ipun kacunduk ring anak alit sedeng ngarit padang. Majalaran saking anak alit punika prasida ipun kapanggih ring pondok ipun Ni Luh Rai, ring tengahing tegal pabianan kaiter olih pangkung asri.

Terjemahan bebasnya :
Seperti ada yang menakdirkan, di tengah jalan ia bertemu dengan anak kecil sedang menyabit rumput. Melalui anak kecil itulah ia menemukan rumahnya Ni Luh Rai, di tengah ladang perkebunan dikelilingi oleh kali yang asri.

Selanjutnya, akan disajikan penokohan (perwatakan) dari tokoh komplementer yang kedua, yakni Ni Luh Kompiyang.
Pandangan dari sudut fisiologis, Ni Luh Kompiyang digambarkan sebagai seorang ibu yang telah mempunyai anak. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
“Uling pidan kaden meme palas tekening cening. Nah, ne jani mara ada swecan Ida Sang Hyang Widhi, meme katepuk tekening cening,...cening.

Terjemahan bebasnya :
“Entah dari kapan ibu berpisah denganmu Anakku. Ya, sekarang baru ada restu dari Ida Sang Hyang Widhi, ibu bertemu denganmu, Anakku,…Anakku.

Pandangan dari sudut psikologis, Ni Luh Kompiyang digambarkan mempunyai penyakit sakit kepala. Perhatikan kutipan berikut.
“Nyen ento kaajak ngomong Rai?” Matakon memennyane saking pasareannyane ring umah meten. Dane sedek sungkan puruh saking ituni.

Terjemahan bebasnya :
“Siapa itu yang kamu ajak bicara, Rai?” Bertanya ibunya dari tempat tidurnya di rumah meten. Ia sedang sakit kepala dari tadi.

Selain itu, Ni Luh Kompiyang juga digambarkan sebagai seorang wanita yang rela berkorban. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah in.
Sangkaning naya-upayan para pemuda pejuang anak buah Pak Rai, sane duk punika sampun nyingkir minggal puri, Ni Luh Kompiyang raris nyupraba Dutha, lamakane Sersan De Bosch nyumbangang senjata ring para pemudane. Sersan De Bosch tinut, tur nyumbangang pestol kalih makudang-kudang mimisnyane, maduluran granat lan ubad-ubadan.

Terjemahan bebasnya :
Berkat upaya para pemuda pejuang anak buah Pak Rai, yang pada waktu itu sudah berpindah meninggalkan puri, Ni Luh Kompiyang lalu menjadi utusan perempuan, supaya Sersan De Bosch menyumbangkan senjata kepada para pemuda. Sersan De Bosch menurut, dan menyumbangkan pistol dan berbagai pelurunya, disertai granat dan obat-obatan.

Petikan di atas melukiskan, sifat Ni Luh Kompiyang yang rela untuk berkorban demi mendapatkan simpati, agar Sersan De Bosch menyumbangkan obat-obatan, pistol beserta peluru dan granat kepada para pemuda pejuang.
Pandangan dari sudut sosiologis, Ni Luh Kompiyang digambarkan pernah bekerja maderep di Canangsari. Perhatikan kutipan berikut.
...dane sareng timpal-timpalnyane ngrereh karya maderep ka Gunung Carangsari. Duk punika dane wau munggah daa.

Terjemahan bebasnya :

…ia bersama teman-temannya mencari kerja mederep ke Gunung Carangsari. Pada waktu itu ia baru memasuki “akil baliq”.

Petikan di atas menggambarkan bahwa Ni Luh Kompiyang ketika baru memasuki “akil baliq”, ia ikut dengan teman-temannya untuk maderep ke Carangsari. Selain itu, Ni Luh Kompiyang juga digambarkan sebagai istri dari Sersan De Bosch. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah ini.
Antuk suara serak asawang tangis Men Luh Rai raris nuturang sapariindiknyane saking ngawit ngrereh karya maderep ka Carangsari, jantos dane kaanggen somah olih Sersan De Bosch.

Terjemahan bebasnya :

Dengan suara serak disertai tangis Men Luh Rai (Ni Luh Kompiyang) lalu menceritakan perihal dirinya dari baru mencari kerja maderep ke Carangsari, sampai ia diperistri oleh Sersan De Bosch.

Selanjutkan akan disajikan penokohan (perwatakan) tokoh komplementer yang ketiga, yaitu Sersan De Bosch.
Pandangan dari sudut fisiologis, Sersan De Bosch digambarkan sebagai seorang anggota Tentara Kerajaan Belanda. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut.
Saking direktur yayasan punika ipun polih keterangan, yening pecak bapan ipune dados anggota Tentara Kerajaan Belanda.

Terjemahan bebasnya :
Dari Direktur Yayasan tersebut ia memperoleh keterangan, kalau dulu bapaknya menjadi anggota Tentara Kerajaan Belanda.

Pandangan dari sudut psikologis, Sersan De Bosch digambarkan sebagai orang yang baik hati. Perhatikan kutipan berikut.
Sersan punika polos pisan. Kalah ipun makidihang ubad-ubadan ring ida dane irika. Sandang becika duk punika ubad-ubadan sangka pisan.

Terjemahan bebasnya :

Sersan itu baik sekali. Banyak ia memberikan obat-obatan untuk para pemuda pejuang. Karena ketika itu Sersan De Bosch menjabat sebagai Sersan Kesehatan Tentara Gajah Merah tersebut.

Pandangan dari sudut sosiologis, Sersan De Bosch digambarkan sebagai suami dari Ni Luh Kompiyang. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kutipan di bawah ini.
Mangkin wau dane uning ring indik ipune Sersan De Bosch, lanangnyane, sampun kecag ring payudan.

Terjemahan bebasnya :

Sekarang baru ia mengetahui tentang Sersan De Bosch, suaminya, sudah gugur dalam peperangan.

Petikan di atas melukiskan bahwa Sersan De Bosch adalah suami dari Ni Luh Kompiyang, yang telah gugur dalam perang di Lembang, Bandung.

3.1.6        Latar (Setting)
Latar dari suatu cerita atau karya sastra adalah tempat secara umum dan waktu (massa) di mana saksi-saksi terjadi. Latar adalah lingkungan, dan lingkungan terutama dalam lingkungan rumah tangga, dapat merupakan menatomi atau metafora, pernyataan (perwujudan) dari watak. Latar dapat menjadi (merupakan) pernyataan dari sebuah keinginan manusia. Ia dapat, bilamana ia merupakan latar alam, sebagai proyeksi dari keinginan (Wallek, 1976:221).
Latar sebagai salah satu unsur yang penting dari struktur cerpen memperlihatkan suatu hubungan yang kait berkait dengan unsur-unsur struktur lainnya. Tidak saja erat hubungannya dengan penokohan, tetapi juga amat erat hubungannya dengan tema dan amanat yang diungkapkan di dalam sebuah cerpen.
Latar di dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring adalah latar yang dengan mudah bisa diidentifikasikan kembali dengan tempat yang ada dalam kenyataan. Cerpen Katemu Ring Tampaksiring merupakan sebuah cerpen rekaan, dan bukan sebuah kenyataan yang sebenarnya (realitas-objektif). Akan tetapi, karena pengarang menyebut sebuah nama dari sebuah tempat atau sebuah kejadian di dalam sebuah cerita, tentulah bukan tanpa maksud. Sebuah nama mewakili dari sebuah pengertian, akan tidak mungkin misalnya menukar sebuah nama dari suatu tempat dengan nama tempat yang lain, karena hal tersebut akan dapat menimbulkan perubahan pengertian, perubahan semangat di dalam cerita (Esten, 1990:116).
Demikian pula dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring telah memilih beberapa nama tempat di mana peristiwa – peristiwa telah terjadi. Carangsari, adalah daerah di mana terjadi pertemuan antara Ni Luh Kompiyang dengan Sersan De Bosch, hingga mereka menikah dan mempunyai anak yang bernama Combosch. Ketika de Combosch berusia kurang lebih tiga tahun, Sersan De Bosch dipindahtugaskan ke Lembang, Bandung hingga akhirnya ia gugur dalam peperangan.
Rotterdam, Belanda merupakan tempat Van Steffen dibesarkan dalam sebuah yayasan yatim piatu yang bernama Yayasan Pemeliharaan Anak Yatim Piatu. Di tempat itu pula Van Steffen pernah mengikuti kursus bahasa Indonesia pada mahasiswa Indonesia yang sedang ada di sana.
Kemudian Tampaksiring, merupakan tempat “bermainnya”  para pelaku atau tokoh dalam cerpen ini. Hal ini disebabkan karena dari awal hingga akhir ceritanya mengambil latar di Tampaksiring, seperti Pura Tirta Empulm art shop Ni Luh Rai, dan rumah Ni Luh Kompiyang. Rumah Ni Luh Kompiyang merupakan tempat terjadinya insiden yang paling penting dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring, karena di rumah tersebutlah terjadi pertemuan yang mengharukan antara Van Steffen dengan ibunya (Ni Luh Kompiyang).
Mengeni latar waktu di dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring ini, penulis tidak dapat menyampaikan secara detail, sebab di dalam setiap insidennya tidak ada yang menyatakan tanggal, bulan ataupun tahun tentang insiden tersebut. Meskipun demikian, kalau dilihat dari isi cerita, dan tokoh-tokohnya yang multibangsa, penulis dapat berkesimpulan bahwa terjadinya insiden-insiden dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring adalah setelah Indonesia merdeka. Dikenal dalam sejarah bahwa setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, keadaan negara pada saat itu masih sangat genting. Hal tersebut disebabkan karena setelah Indonesia merdeka, pejuang Indonesia masih harus menghadapi para penjajah yang bersikeras ingin merebut kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

3.1.7        Tema
Tema merupakan pokok persoalan yang ada pada setiap karya sastra. Sebagai persoalan, tema merupakan sesuatu yang netral. Pada hakekatnya, di dalam tema belum ada sikap, belum ada kecenderungan untuk memihak. Oleh karena itu, masalah apa saja dapat dijadikan tema di dalam sebuah karya sastra. Semakin baik bentuk karya sastra, maka semakin jelaslah temanya, sebab tema adalah makna dari karya sastra secara keseluruhan.
Tema di dalam sebuah karya sastra letaknya tersembunyi dan harus dicari sendiri oleh pembaca. Pengarang hanya menyuguhkan kejadian dalam cerita yang saling berhubungan, sehingga dapat memperjelas persoalan yang dikemukakan.
Purwadarminta mengatakan bahwa tema adalah pokok pikiran, dasar cerita yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar pengarang (1976:1040). Sedangkan Hutagalung juga menyatakan bahwa tema adalah persoalan yang berhasil menduduki tempat utama dalam cerita (1967:77). Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dari seluruh cerita. Suatu cerita tidak mempunyai tema tentu kurang manfaatnya bagi pembaca (Tarigan, 1984:125).
Di dalam sebuah karya sastra, ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk menentukan tema yaitu : (1) dengan melihat persoalan mana yang menonjol, (2) secara kuantitatif persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik. Konflik-konflik melahirkan peristiwa-peristiwa, dan (3) dengan menentukan atau menghitung waktu penceritaan yaitu yang diperlukan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa ataupun tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra (Esten, 1990:92).
Tema dalam suatu karya sastra dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : (a) tema pokok, dan (b) tema sampingan. Tema pokok, yaitu tema utama yang terkandung dalam suatu karya sastra yang mengacu pada satu tema. Tema sampingan, yaitu tema kecil yang berfungsi sebagai pendukung dari tema utama dalam karya sastra.
1.      Tema Pokok
Tema pokok dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring adalah masalah identitas pribadi dalam kehidupan sosial. Cerpen ini menggambarkan, bahwa betapa pentingnya identitas pribadi tersebut bagi seseorang dalam konteksnya dengan kehidupan sosial dan budaya Bali. Adapun yang menggambarkan masalah tentang identitas pribadi pada tokohnya, dapat dilihat pada kutipan berikut.
…Men Luh Rai tumuli nuturang teges wasta De Combosch punika. Com tegesnyane Kompiyang, miwah Bosch tegesnyane De Bosch. Dadiyata De Combosch, tegesnyane panunggalan wiadin pasikian wastan meme muah bapan Van Steffen punika.

Terjemahan bebasnya :

…Men Luh Rai lalu menceritakan arti dari nama De Combosch tersebut. Com artinya Kompiyang, dan Bosch artinya De Bosch. Dadi De Combosch, artinya penyatuan atau penggabungan nama ibu dan bapaknya Van Steffen.

2.      Teori Sampingan
Disamping tema pokok, ada juga tema sampingan yang berfungsi sebagai pendukung dari tema pokok dalam cerita. Adapun tema sampingan dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring adalah pertemuan antara ibu dan anaknya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.
....Manawita sangkaning sampun titah Ida Sang Hyang Tuduh, manah Van Steffen raris ngayuh angalap kasor, tumuli gelis nyaup batis memennyane sinambi asasambat :
“Oh,...Moeder!...Oh,...Vader!”Raris Van Steffen ngeling sengi-sengi, yeh peningalane membah melusang baju. Gelis memennyane mapisihin angasih-asih. Yeh peninggalannyane paketeltel nigenin sirah Van Steffen kadi anak nyiratin tirta panglukatan yen nirgamayang.

Terjemahan bebasnya :

…Barangkali sudah takdir Ida Sang Hyang Tuduh, hati Van Steffen lalu reda, kemudian cepat memeluk kaki ibunya sambil sesenggukan :
“Oh Ibu!...Oh Bapak!” Lalu Van Steffen menangis sesenggukan. Air matanya berlinang membasahi bajunya. Segera ibunya mengelus-elus penuh kasih sayang. Air matanya menetes mengenai kepala Van Steffen seperti orang mencipratkan tirta penglukatan jika diumpamakan.

Petikan di atas melukiskan pertemuan yang mengharukan antara Van Steffen dengan Ni Luh Kompiyang (ibunya).

3.1.8        Amanat
Amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung di dalam tema. Setiap karya sastra mempunyai amanat, yang merupakan tujuan dari penulisan ceritanya. Hanya saja terkandung tujuan tersebut tidak disadari, namun dia tetap ada, baik itu secara eksplisit ataupun secara implisit. Bahkan ada juga amanat yang tidak nampak sama sekali di dalam ceritanya.
Narayana mengatakan bahwa amanat adalah kesan dan pesan yang berdasarkan atas pengetahuan pengarang yang ingin disampaikan kepada orang lain melalui perantara cerita yang dibangunnya (1992:133). Amanat tersebut dapat berupa pengajaran pendidikan, etika, adat istiadat, agama, sosial dan sebagainya sesuai dengan luas dan sempitnya pengetahuan pengarang.
Dari uraian di atas, maka ditarik kesimpulan bahwa amanat merupakan tujuan penulisan yang ingin disampaikan kepada orang lain (pembaca atau pendengar), baik itu secara eksplisit (berterang-terangan) maupun secara implisit (tersirat) melalui perantara cerita yang dibangunnya.
Jadi, amanat yang disampaikan di dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring adalah :
1.      Pentingnya identitas pribadi dalam kehidupan sosial. Hal ini dapat diketahui melalui pokok persoalan yang menyebabkan konflik di dalam tokoh-tokoh ceritanya. Di dalam cerpen ini digambarkan bahwa identitas pribadi seseorang sangatlah penting, terutama dalam kehidupan sosial. Karena identitas pribadi dapat menunjukkan latar belakang dan silsilah keluarga seseorang.
2.      Cinta seorang ibu kepada anaknya tidak akan lekang oleh waktu. Walaupun mereka berpisah dalam jangka waktu yang lama, namun perpisahan bukan akhir dari cinta seorang ibu pada anaknya. Dengan perpisahan, anak akan lebih mengerti akan arti hidup tanpa seorang ibu, begitu juga dengan sang ibu. Seorang ibu selalu menginginkan agar bisa tumbuh dan berkembang seiring waktu dalam kasih sayangnya.


BAB IV
PENUTUP

4.1        Simpulan
Dari segi strukturnya, cerpen Katemu Ring Tampaksiring dibangun oleh unsur instrinsik yang meliputi : alur, plot, insiden, tokoh, penokohan (perwatakan), latar (setting), tema dan amanat. Semua unsur-unsur tersebut tidaklah berdisi sendiri tanpa hubungan satu sama lainnya, melainkan kesemuanya merupakan satu kesatuan yang utuh.
Cerpen ini menggunakan alur longgar (flash back), karena di dalam ceritanya mengisahkan tentang kehidupan masa lalu para tokohnya. Plotnya dibentuk oleh insiden-insiden yang terjalin dalam hubungan sebab akibat yang logis. Dan untuk mengetahui logis tidaknya suatu plot dalam cerpen ini, hal tersebut dapat dilihat melalui rangkaian peristiwa yang membentuknya, yaitu eksposisi, konflikasi, klimaks, antiklimaks dan resolusi.
Insiden-insiden yang terdapat dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring dapat diuraikan menjadi lima insiden. Tokoh dalam cerpen ini ada dua, yaitu tokoh protagonis dan tokoh komplementer. Tokoh protagonisnya yakni Van Steffen (De Combosch), sedangkan tokoh komplementernya yaitu Ni Luh Rai, Ni Luh Kompiyang, dan Sersan De Bosch.
Ditinjau dari segi penokohan (perwatakan), penulis memandang dari tiga sudut yaitu sudut fisiologis, sudut psikologis, dan sudut sosiologis. Latar (setting) dalam cerpen ini menggunakan latar yang mudah diidentifikasikan dengan tempat dalam kenyataan, yaitu Carangsari, Rotterdam (Belanda) dan Tampaksiring.
Cerpen Katemu Ring Tampaksiring mempunyai dua tema, yaitu tema pokok dan tema sampingan. Tema pokok yang terkandung dalam cerpen ini adalah masalah identitas pribadi dalam kehidupan sosial. Sedangkan tema sampingannya adalah pertemuan antara ibu dengan anaknya.
Amanat yang terkandung di dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring adalah :      (1) pentingnya identitas pribadi dalam kehidupan sosial, (2) cinta seorang ibu kepada anaknya tidak akan lekang oleh waktu. Demikianlah simpulan yang dapat penulis uraikan dalam kajian struktural dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring.

4.2        Saran
Sesuai dengan pemaparan di dalam pembahasan tersebut, kajian ini hanya menyajikan tentang struktural dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan ini hanya mengkaji sebagian kecil dari isi secara keseluruhan dalam cerpen ini. Banyak yang masih dapat dikaji ataupun dianalisis dalam cerpen ini dengan lebih mendalam. Kajian ataupun analisis tersebut sangat diperlukan untuk memperjelas bentuk struktural dalam cerpen Katemu Ring Tampaksiring. Adanya kajian atau analisis lanjutan tersebut merupakan suatu kontribusi yang besar terhadap pelestarian Karya Sastra Bali Modern.
Karya Sastra Bali Modern merupakan aspek kebudayaan daerah yang harus tetap dilestarikan, mengingat kuatnya karya sastra Bali klasik menguasai tata hidup masyarakat Bali. Pelestarian dan perwujudan unsur kebudayaan daerah dalam forma yang lebih akurat tidak lain merupakan usaha untuk menunjukkan identitas kultural masing-masing dalam konteks kebudayaan nasional.


DAFTAR PUSTAKA

Balai Bahasa Denpasar. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin. Denpasar : Balai Bahasa Denpasar, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. 2005. Kasusastraan Bali. Denpasar.

Eddy, Nyoman Tusthi. 1991. Mengenal Sastra Bali Modern. Jakarta : Balai Pustaka.

Esten, Mursal. 1990. Sastra Indonesia dan Tradisi Sub Kultur. Bandung : Angkasa.

Putra, I Nyoman Darma. 2000. Tonggak Baru Sastra Bali Modern. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.

Suarjana, I Nyoman Putra. 2008. “Prosa Bali Anyar”. Materi Kuliah Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Bali, IKIP PGRI Bali.

Suwija, I Nyoman. 2005. Kamus Anggah-Ungguhing Basa Bali. Denpasar : Sanggar Ayu Suara.

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya Giri Mukti Pustaka.

Tarigan. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung : PN Angkasa.

Tim Penyusun. 2005. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Klaten : PT Intan Pariwara.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta : PT. Gramedia.

Yudiono, K.S. 1986. Telaah Kritik Sastra. Jakarta : PT. Maju.

Yuwono, Trisno dan Pius Abdullah. 1994. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis. Surabaya : Arkola.