Aksara, Basa, lan Sastra Bali

"Om Swastyastu, swasti prapta aturang titiang majeng ring para sameton blogger sami, durusang macecingak ring blog titiang, pinaka anggen jalaran masadu wirasa, mogi-mogi wenten pikenohnyane"

Rabu, 29 Mei 2013

TEMBANG: SEKAR ALIT


Sekar alit juga disebut macapat. Macapat dalam bahasa Jawa berarti suatu sistem untuk membaca syair tembang atas empat-empat suku kata. Di Bali tembang macapat sering disebut dengan pupuh yang berarti rangkaian tembang (Budiyasa dan Purnawan, 1998: 8). Pupuh di Bali dikenal sepuluh buah sebagai macapat asli, seperti Pupuh Sinom, Pupuh Semarandana, Pupuh Pangkur, Pupuh Pucung, Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh Durma, Pupuh Maskumambang, Pupuh Dandanggula,  dan Pupuh Mijil. Pupuh yang dirangkai dalam sebuah cerita disebut geguritan. Akan tetapi, selanjutnya muncul beberapa pupuh baru yang berasal dari kidung, seperti Jurudemung (Demung), Gambuh, Magatruh, Tikus Kapanting, dan Adri. Belakangan muncul beberapa geguritan yang memiliki beberapa tema, yaitu Geguritan Tamtam, Geguritan Basur, Geguritan Ni Sumala, Geguritan Pakang Raras, Geguritan Durma, Geguritan Sucita, dan sebagainya.
Pupuh juga memiliki beberapa variasi yang beranekaragam, sesuai dengan alur cerita dalam geguritan, misalnya pupuh Sinom memiliki beberapa variasi yaitu pupuh Sinom Uug Payangan (ditembangkan dalam Geguritan Uug Payangan); pupuh Ginada memiliki variasi pupuh Ginada Basur (ditembangkan dalam Geguritan Basur); pupuh Ginada Jayaprana (ditembangkan dalam Geguritan Jayaprana); dan beberapa variasi pupuh yang lain. Selain itu, pupuh sebagai rangkaian tembang memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter pupuh tersebut akan tampak ketika dilantunkan dengan ekspresi, berupa rasa romantis, sedih, senang, berwibawa, dan sebagainya.

Tabel 1.1 Karakter Pupuh
No.
Nama Pupuh
Sifat/Karakter
Keterangan
1
Maskumambang
Perasaan yang sedih, merana, terkadang romantis.
Baiknya untuk mengetuk perasaan.
2
Mijil
Perasaan was-was.
Untuk menguraikan nasihat.
3
Pucung
Kendor, tanpa disertai perasaan memuncak.
Untuk menguraikan nasihat.
4
Ginanti
Senang ajaran, filsafat
Untuk menguraikan sesuatu.
5
Ginada
Kesedihan, merana, dan kekecewaan.
-
6
Sinom
Romantis, ramah tamah.
Baik untuk menguraikan nasihat atau amanat.
7
Semarandana
Agak sedih, terkadang romantis, merana.
Untuk mengungkapkan cerita yang bernuansa asmara/romantis.
8
Durma
Agak keras, tegas terkadang bengis.
Untuk cerita-cerita kepahlawanan.
9
Pangkur
Perasaan hati yang memuncak.
Cocok untuk menyampaikan masalah yang serius/mantap.
10
Dangdanggula
Halus, lemah gemulai.
Untuk menguraikan nasihat.
11
Demung
Rasa mantap/serius.
-
12
Gambuh
Rasa lemah gemulai, romantis.
Untuk mengungkapkan luapan perasaan yang mendalam.
13
Adri
Rasa mantap dan ramah.
-
14
Magatruh
Rasa menyindir, mengkritik, mengejek.
-
15
Tikus Kapanting
Rasa serius dan percaya diri.
Untuk memberikan nasihat atau amanat.

Tembang macapat diatur oleh padalingsa, yaitu huruf vokal pada akhir suku kata masing-masing baris dalam satu bait. Namun, padalingsa juga dapat mencakup tiga aturan (uger-uger), yaitu guru gatra, guru wilangan, dan guru suara/ding dong.
a.       Guru gatra, yaitu banyaknya baris dalam satu bait pupuh.
b.      Guru wilangan, yaitu banyaknya suku kata dalam satu baris pupuh.
c.       Guru suara/ding dong, yaitu huruf vokal pada akhir suku kata masing-masing baris dalam satu bait pupuh.
Tabel 1.2 Padalingsa Pupuh
No
Nama Pupuh
Banyak Baris
Baris ke:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Pucung
Mijil
Maskumambang
Pangkur
Ginada
Ginanti
Sinom
Dangdang gula
Semarandana
Durma
Adri
Gambuh
Demung
Megatruh
Tikus Kapanting
6
7
5
7
7
6
10
12
7
7
8
5
7
5
8
4u
4u
4u
8a
8a
8u
8a
10i
8i
12a
10u
7u
8a
12u
8u
8u
6i
8i
11i
8i
8i
8i
4a
8a
8i
6a
10u
10u
8i
8i
6a
6o
6a
8u
8a
8a
8a
6a
8a
6a
8i
12i
8u
8u
8a
8i
10e
8i
8a
8u
8i
8i
8e
8a
8a
8u
8u
8a
8i
8u
4u
10i
8a
12u
8a
8a
8i
8u
8a
8i
8e
8o
8u
8o
8a
8a
6i
-
8a
4i
8i
8u
8i
8u
4a
8u
-
8a
-
8i
-
6u
-
8i
8a
-
8a
8a
8a
7i
9a
-
8u
-
8u
-
-
-
-
-
-
8i
8u
-
-
8a
-
-
-
8i
-
-
-
-
-
-
4u
8a
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
8a
4a
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
8i
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
8a
-
-
-
-
-
-
-

            Dalam menyajikan tembang macapat atau pupuh pada dasarnya dapat ditempuh dengan dua cara yakni sebagai berikut.
1)      Sistem paca priring, yaitu sistem membaca atau menyajikan nada-nada pokok tembang satu demi satu bagi orang yang baru mulai belajar menembang.
2)      Sistem ngwilet atau gregel, yaitu sistem dalam menyanyikan tembang sudah memakai hiasan atau variasi cengkok, anak nada, dan pemakaian tempo lebih panjang. Cara ini dapat melahirkan gaya tiap penyanyi, namun masih tetap pada tema lagu atau tembang.

TEORI INTERTEKSTUAL


             Intertekstual pertama kali dikembangkan oleh peneliti Prancis, Kristeva (1980) dalam esainya berjudul “The Bounded Text” dan “Word, Dialogue, and Novel”. Pendekatan intertekstual mempunyai prinsip dasar bahwa setiap teks merupakan satu produktivitas. Teks merupakan satu permutasian teks-teks lain. Intertekstual memandang teks berada di dalam ruang satu teks yang ditentukan, teks merupakan bermacam-macam tindak ujaran, teks diambil dari teks-teks lain, serta teks bersifat tumpang-tindih dan saling menetralkan satu sama lain (Kristeva, 1980:36—37). Karena itu, teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain; tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka (Teeuw, 1988:145). Teks yang menjadi latar penciptaan karya baru disebut hipogram, dan teks baru yang menyerap dan mentransformasikan hipogram disebut teks transformasi (Riffaterre, 1978:11, 23).
Setiap teks dikonstruksi sebagai mosaik kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks lain. Dugaan intertektualitas menggantikan  intersubjektivitas itu dan menganggap sebuah bahasa puitis harus dibaca sebagai satu hal yang bersifat ganda (Kristeva, 1980:66). Bagi Kristeva, intertekstualitas tidak mereduksi kepada studi tradisional yang memandang satu teks dipengaruhi teks lain. Intertekstual jauh melampaui metode tradisional itu melalui tiga cara, yaitu (a) pemisahan intertekstual dari pengaruh yang melibatkan pertanyaan tentang niat pengarang. Bagi studi yang mendasarkan diri kepada pengaruh, alusi-alusi tekstual merupakan produk kesadaran pilihan pengarang. Intertekstualitas, di sisi lain, merupakan bagian pergerakan postruktural dan sebagai tantangan, baik terhadap sentralitas pengarang maupun dugaan-dugaan tradisional dari kesadaran; (b) membedakan antara intertektualitas dan studi pengaruh yang melibatkan pertanyaan tentang sastra itu sendiri. Teori intertekstualitas mengasumsikan bahwa setiap kerja besar dari sastra adalah penuh dengan interteks dari satu cabang teks sastra dan bukan sastra. Pembacaan intertekstual berdiri pada kekaburan garis pembatas antara sastra dan bukan sastra, pusat dan marginal, ataupun antara hitam dan putih. Teks ataupun penulis tidak tertutup secara rapat dari jangkauan teks-teks yang eksis dalam teks budaya yang lebih besar; (c) bagi teori intertekstual, penulis ataupun teks tidak terputus dari dunia budaya yang lebih besar. Dengan demikian, setiap teks sastra mengambil bagian dan mengacu kepada teks sosial. Sebuah teks bermakna penuh bukan hanya karena mempunyai struktur, suatu kerangka yang menentukan dan mendukung bentuk, tetapi juga karena teks itu berhubungan dengan teks lain. Karena itu, sebuah karya hanya dapat dibaca dalam kaitan ataupun pertentangan dengan teks-teks lain, yang merupakan semacam kisi. Lewat kisi itulah teks dibaca dan diberi struktur dengan menimbulkan harapan yang memungkinkan pembaca untuk memetik ciri-ciri menonjol dan memberikannya sebuah struktur.
Ada sepuluh tesis intertekstual, yaitu (1) konsep intertekstualitas menghendaki bahwa teks harus dipahami bukan sebagai sebuah struktur yang dipertahankan oleh dirinya sendiri, tetapi sebagai sesuatu yang bersifat historis dan berbeda-beda. Teks dibentuk bukan melalui waktu yang immanen, tetapi melalui permainan temporalitas yang terpisah-pisah; (2) teks-teks bukan merupakan struktur yang hadir, tetapi merupakan jejak-jejak dan penelusuran-penelusurannya dari teks-teks lain. Jejak-jejak dan penelusuran-penelusurannya itu dibentuk oleh repetisi dan transformasi dari struktur tekstual lainnya; (3) struktur tekstual itu tidak muncul pada salah satu teks yang dimasukkan, tetapi hadir pada salah satu dari momen-momen dan prakondisi teks; (4) bentuk representasi struktur intertekstual bergerak dari tataran eksplisit ke implisit. Lagipula, struktur-struktur itu mungkin lebih khusus, mungkin juga lebih umum ataupun mungkin berupa jenis pesan atau jenis kode. Teks-teks dibuat keluar dari norma-norma ideologi dan budaya; keluar dari konvensi-konvensi genre; keluar dari idiom-idiom dan gaya-gaya yang dikitarkan dalam bahasa; keluar dari perangkat-perangkat kolektif dan konotasi; keluar dari klise-klise, formula-formula, peribahasa-peribahasa; dan keluar dari teks-teks yang lain; (5) intertekstual ibarat mesin tenun yang menempatkan persoalan perbedaan dari bentuk-bentuk representasi intertekstual dengan cara menjawab pertanyaan apakah pantas seseorang dapat menyampaikan sebuah relasi intertekstual kepada sebuah genre. Relasi demikian itu bukan merupakan relasi yang kaku bagi sebuah interteks, tetapi relasi yang segera mengijinkan bahwa tidak mungkin membuat pembedaan yang kaku antara level-level kode dan teks; (6) proses referensi intertekstual diatur oleh jalur-jalur formasi diskursif. Relasi teks-teks sastra dengan wilayah diskursif yang lebih umum dimediasi oleh struktur sistem sastra dan otoritas aturan sastra; (7) efek mediasi ini adalah memberikan efek reduksi metonimik dari diskurif kepada norma-norma sastra, dan mungkin pula membuat tematisasi refleksif dari relasi teks-teks kepada struktur otoritas diskursif. Sejak intertekstualitas berfungsi, baik sebagai jejak maupun representasi, tematisasi ini tidak ingin tergantung kepada maksud kesadaran yang mutlak; (8) identifikasi sebuah interteks adalah sebuah tindakan interpretasi. Interteks bukan merupakan sebuah sumber yang nyata dan kausatif, tetapi merupakan bangunan teoretik yang dibentuk oleh tujuan pembacaan; (9) apa yang relevan bagi interpretasi tekstual bukanlah sumber intertekstual yang khusus, melainkan struktur diskursif yang umum (genre, formasi diskursif, ideologi); (10) analisis intertekstual dibedakan dari kritik sumber, baik karena penekanannya yang lebih pada interpretasi daripada kemantapan fakta-fakta khusus, maupun oleh penolakannya terhadap satu kausalitas yang tidak linier bagi sejumlah karya yang dipertunjukkan di atas materi intertekstual dan integrasi fungsionalnya pada teks yang muncul belakangan (John Frow dalam Worton dkk., 1990:45—46).
Berdasarkan prinsip teori intertekstual yang memandang teks sebagai transformasi teks-teks lain dan sebagai sebuah tindakan interpretasi, maka dapat dikatakan bahwa persoalan transformasi merupakan bagian esensial dalam teori intertekstual. Dalam transformasi teks, Teeuw, dalam tulisan berjudul “Translation, Transformation, and Indonesian Literary History” (1983:5) menyebutkan ada empat pertanyaan penting yang mesti diperhatikan, yaitu (a) mengapa satu teks dipilih secara khusus dalam suatu transformasi? Untuk menjawab pertanyaan ini, seseorang akan membedakan antara alasan sastra dengan alasan sosial budaya; (b) apakah yang terjadi pada teks dalam proses transformasi itu? Apakah ada bagian-bagian teks yang diubah, diadaptasi ataukah ditransformasi, baik dalam bentuk sastranya maupun dalam fungsi sosialnya? (c) apakah yang dilakukan teks sumber terhadap teks transformasi itu? Apakah ada dampak, misalnya teks sumber mempengaruhi sistem sastra yang terkait, teks sumber menyebabkan terciptanya genre baru, teks sumber mempengaruhi norma-norma dan konvensi-konvensi, ataukah memutuskan horison harapan pembaca masa kini? (d) apakah yang dilakukan teks transformasi itu terhadap teks sumbernya? Bagaimanakah teks sumber itu diterima, diadaptasi, atau mungkin pada beberapa bagian ditolak atau ditinggalkan? Karena itu, transformasi memainkan peranan esensial dalam sejarah sastra. Karya sastra akan mendapatkan makna penuh dengan latar belakang keseluruhan sastranya, baik secara sinkronis maupun diakronis. Pemahaman demikian akan mampu melahirkan karya sastra sebagai tanda yang penuh makna secara semiotik (Chamamah, 1991:19). Dari segi teori sastra, prinsip intertekstual membawa peneliti kepada upaya untuk memandang teks-teks pendahulu sebagai sumbangan pada suatu kode yang memungkinkan efek pemaknaan yang bermacam-macam (Culler, 1981:103).
            Riffaterre (1978:1—2) mengemukakan bahwa karya sastra merupakan aktivitas bahasa secara tidak langsung dan bersifat hipogramatik. Fenomena sastra merupakan suatu dialektik antara teks dan pembaca serta dialektik antara tataran mimetik dan tataran semiotik. Gagasan itu didasarkan atas prinsip bahwa puisi (karya sastra) merupakan satu aktivitas bahasa. Akan tetapi, aktivitas bahasa itu adalah tidak langsung. Ada tiga hal yang menyebabkan ketidaklangsungan itu, yakni displacing of meaning, distorting of meaning, dan creating of meaning. Displacing of meaning muncul ketika tanda-tanda berpindah dari satu arti ke arti yang lain, ketika satu kata “menggantikan” kata yang lain, sebagaimana metafora dan metonimi. Distorting of meaning terjadi akibat ambiguitas, kontradiksi, atau nonsense. Sementara itu, creating of meaning ditentukan oleh satu organisasi prinsip untuk tanda-tanda  di luar item-item linguistik.
            Lebih jauh, Riffaterre (1978:2—3) menyebutkan bahwa ciri khas puisi adalah kesatuannya, yakni satu kesatuan, baik formal maupun semantik. Berdasarkan tataran formal dan semantik, Riffaterre mengusulkan dua istilah yang perlu dibedakan dalam pemaknaan puisi, yakni arti (meaning) dan makna (significance)[1]. Pertentangan antara arti (meaning) dan makna (significance) memainkan peranan yang  menentukan (Santoso, 1993:29). Dari segi arti (meaning), teks puisi merupakan rangkaian satuan informasi yang berturut-turut, yang dikonvensikan oleh teks pada tataran mimetik. Dari segi makna (significance), teks puisi merupakan satu kesatuan semantik. Sehubungan dengan itu, pembaca sebagai pemberi makna harus mulai dengan menemukan arti (meaning) teks berdasarkan fungsi mimetik bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari. Dengan kata lain, pembaca melakukan pembacaan heuristik, yakni pembacaan berdasarkan kompetensi linguistik. Setelah itu, pembaca melangkah ke tataran yang lebih tinggi, yakni significance sebagai satu manifestasi semiosis dengan mencari kode karya sastra secara struktural  atau decoding. Dalam tataran baca semacam itu, pembaca melakukan pembacaan hermeneutik, yakni pembacaan berdasarkan kompetensi sastra. Pembacaan hermeneutik dilakukan secara struktural, bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan kembali lagi ke bagian, dan seterusnya berdasarkan unsur-unsur ketidakgramatikalan (ungrammaticali-ties). Bagi Riffaterre, salah satu ketidakgramatikalan (ungrammaticalities) itu dan yang sekaligus menjadi pusat makna satu puisi adalah matriks.
Menurut Riffaterre (1978:19), wacana puisi merupakan ekuivalensi yang ditetapkan antara satu kata dengan satu teks atau satu teks dengan teks yang lain. Puisi merupakan hasil dari transformasi matriks, yakni kalimat minimal dan literal ke dalam parafrase yang lebih panjang, kompleks, dan nonliteral. Matriks adalah bersifat hipotetik. Matriks mungkin dioptimasikan dalam satu kata yang tidak pernah diaktualisasikan secara utuh di dalam teks, tetapi diaktualisasikan dalam bentuk varian-varian, ketidakgramatikal-an (ungrammaticalities). Bentuk varian sebagai aktualisasi pertama atau aktualisasi pokok dari matriks adalah model. Bagi Riffaterre, matriks, model, dan teks merupakan varian dari struktur yang sama.
Riffaterre mengajukan gagasan produksi tanda (production sign), yakni produksi tanda puitik ditentukan oleh derivasi hipogramatik: satu kata atau frase dipuitiskan ketika kata atau frase itu mengacu pada sekelompok kata yang telah ada lebih dahulu, satu hipogram yang juga merupakan satu varian dari matriks teks (Riffaterre, 1978:23). Hipogram itu tidak ada di dalam teks. Hipogram itu mungkin bersifat potensial yang tampak dalam bahasa seperti presuposisi, klise-klise, serta sistem deskriptif, yakni satu jaringan kata-kata yang dihubungkan dengan satu hal lain di sekitar kata inti, atau bersifat aktual dalam wujud mitos-mitos atau teks-teks lain yang telah ada sebelumnya (Riffaterre, 1978:23—39).
Analisis intertekstual bersifat politis (praktis), yakni melihat yang tekstual dan ekstratekstual saling memperlakukan, atau yang ekstratekstual merupakan jenis teks lain. Namun, terdapat kebutuhan yang menggambarkan relasi antara pembentukan-pembentukan sosial (sebagai salah satu jenis teks) dan teks-teks dalam pengertian konvensional. Praktik intertekstual merupakan sebuah upaya untuk berjuang melawan “kerumitan dan pengucilan”.




[1] ) Berkaitan dengan istilah syllepsis (ambigu menurut Genette): sebuah kata pada suatu ketika dipahami lewat dua cara, yakni sebagai arti (meaning) dan sebagai makna (significance). Ia merupakan bagian strategi tekstual, selain kutipan, dll.

Sumber: Materi Kuliah Susastra Bali

Minggu, 03 Maret 2013

TEORI SEMIOTIK


           Mengkaji karya sastra tanpa sebuah teori tentu sangat susah, karena tidak ada landasan berpijak untuk mengetahui labih jauh hal yang akan kaji. Namun, teman-teman jangan ragu tentang hal itu, berikut ada beberapa uraian yang menjelaskan tentang teori sastra, salah satunya yaitu teori semiotik.
            Semiotika adalah suatu bidang studi yang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi melalui sarana tanda-tanda dan berdasarkan pada sistem tanda (Segers, 1978:14) atau bidang studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengan tanda: cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakan (Eco, 1979:7; van Zoest, 1992:5).
Secara definitif, tanda adalah segala apa yang menyatakan sesuatu yang lain daripada dirinya. Tanda itu dihasilkan melalui proses signifikasi yang merupakan proses yang memadukan penanda dan petanda (Barthes dalam Young, 1981:37—38; Budiman, 1999:108; Sunardi, 2002:49). Karena itu, pada prinsipnya semiotik mempelajari bagaimana arti-arti dibuat dan bagaimana realitas direpresentasikan, yang barangkali jelas dalam bentuk “teks” dan “media” (Chandler, 2002:2). Semiotik memusatkan perhatian pada pertukaran beberapa pesan apa pun dalam suatu kata atau komunikasi dan juga memusatkan perhatian pada proses signifikasi (Sebeok, 1994:5).
            Paling sedikit ada tiga aliran dalam semiotika, yaitu (1) aliran semiotika komunikasi dengan intensitas kualitas tanda dalam kaitannya dengan pengirim dan penerima, tanda yang disertai dengan maksud. Sebuah teks sastra dapat dipandang sebagai seperangkat tanda yang ditransmisikan melalui saluran kepada pembaca. Kode yang dipilih pengarang dan diketahui atau sebagian diketahui pembaca memungkinkan pembaca mendecode tanda-tanda tekstual dan mengaitkan makna dengan materi teks. Saluran memungkinkan pembaca membaca teks sastra, sedangkan kode memungkinkan pembaca menafsirkan teks sastra (Buyssens, Prieto, Mounin); (2) aliran semiotika konotatif, atas dasar ciri-ciri denotasi kemudian diperoleh makna konotasinya, arti (meaning) pada bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama menjadi makna (significane) pada sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua (Barthes); (3) aliran semiotika ekspansif, diperluas dengan bidang psikologi (Freud) dan sosiologi (Marxis), termasuk filsafat (Julia Kristeva)
Dalam lapangan kritik sastra, semiotika memandang sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa berdasarkan pada konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri-ciri yang memberikan makna pada bermacam-macam modus wacana (Preminger (ed.), 1974:980). Ahli semiotika memburu jenis-jenis tanda tertentu, bagaimana tanda-tanda itu berbeda dengan yang lain, bagaimana fungsi tanda dalam habitat alaminya, bagaimana interaksinya dengan jenis-jenis tanda yang lain (Culler, 1981:vii), dan tanda-tanda dengan konvensinya (Pradopo, 2001:3). Karya sastra sebagai bangunan bahasa pada hakikatnya adalah fakta semiotik, sebagai sistem tanda (Abdullah, 1991:8) yang dapat ditafsirkan dan yang proses penafsirannya itu dapat terjadi berkali-kali (Hoed, 2001:197).
            Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda, maka tanda dibedakan sebagai berikut:
  1. Representamen, ground, tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum:
    1. qualisigns, terbentuk oleh kualitas: warna hijau
    2. sinsigns, tokens, terbentuk melalui realitas fisik: rambu lalu lintas
    3. legisigns, types berupa hukum: suara wasit dalam pelanggaran
  2. Object (designatum, denotatum, referent) yaitu apa yang diacu:
    1. Ikon: hubungan penanda dan petanda karena kemiripan: foto
    2. Indeks: hubungan penanda dan petanda karena sebab akibat: asap dan api
    3. Simbol: hubungan penanda dan petanda yang bersifat konvensional: bendera

  1. Interpretant, tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima:
    1. rheme, tanda sebagai kemungkinan: konsep
    2. decisigns, dicent signs, tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif
    3. argument, tanda tampak sebagai nalar: proposisi
            Menurut Pradopo (2001:3—4) bahwa dalam rangka perburuan tanda-tanda itu, ada empat paradigma yang perlu diperhatikan, yaitu (1) jenis-jenis tanda: ikon, indeks, dan simbol; (2) satuan-satuan arti; (3) konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda mempunyai makna; dan (4) hipogram (hubungan intertekstual).
            Riffaterre (1978:1—2) mengemukakan bahwa karya sastra merupakan aktivitas bahasa secara tidak langsung dan bersifat hipogramatik. Fenomena sastra merupakan suatu dialektik antara teks dan pembaca serta dialektik antara tataran mimetik dan tataran semiotik. Gagasan itu didasarkan atas prinsip bahwa puisi (karya sastra) merupakan satu aktivitas bahasa. Akan tetapi, aktivitas bahasa itu adalah tidak langsung. Ada tiga hal yang menyebab-kan ketidaklangsungan itu, yakni displacing of meaning, distorting of meaning, dan creating of meaning. Displacing of meaning muncul ketika tanda-tanda berpindah dari satu arti ke arti yang lain, ketika satu kata “menggantikan” kata yang lain, sebagaimana metafora dan metonimi. Distorting of meaning terjadi akibat ambiguitas, kontradiksi, atau nonsense. Sementara itu, creating of meaning ditentukan oleh satu organisasi prinsip untuk tanda-tanda  di luar item-item linguistik.
            Lebih jauh, Riffaterre (1978:2—3) menyebutkan bahwa ciri khas puisi adalah kesatuannya, yakni satu kesatuan, baik formal maupun semantik. Berdasarkan tataran formal dan semantik, Riffaterre mengusulkan dua istilah yang perlu dibedakan dalam pemaknaan puisi, yakni arti (meaning) dan makna (significance). Pertentangan antara arti (meaning) dan makna (significance) memainkan peranan yang  menentukan (Santoso, 1993:29). Dari segi arti (meaning), teks puisi merupakan rangkaian satuan informasi yang berturut-turut, yang dikonvensikan oleh teks pada tataran mimetik. Dari segi makna (significance), teks puisi merupakan satu kesatuan semantik. Sehubungan dengan itu, pembaca sebagai pemberi makna harus mulai dengan menemukan arti (meaning) teks berdasarkan fungsi mimetik bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari. Dengan kata lain, pembaca melakukan pembacaan heuristik, yakni pembacaan berdasarkan kompetensi linguistik. Setelah itu, pembaca melangkah ke tataran yang lebih tinggi, yakni significance sebagai satu manifestasi semiosis dengan mencari kode karya sastra secara struktural  atau decoding. Dalam tataran baca semacam itu, pembaca melakukan pembacaan hermeneutik, yakni pembacaan berdasarkan kompetensi sastra. Pembacaan hermeneutik dilakukan secara struktural, bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan kembali lagi ke bagian, dan seterusnya berdasarkan unsur-unsur ketidakgramatikalan (ungrammaticalities). Bagi Riffaterre, salah satu ketidakgramatikalan (ungrammaticalities) itu dan yang sekaligus menjadi pusat makna satu puisi adalah matriks.
Menurut Riffaterre (1978:19), wacana puisi merupakan ekuivalensi yang ditetapkan antara satu kata dengan satu teks atau satu teks dengan teks yang lain. Puisi merupakan hasil dari transformasi matriks, yakni kalimat minimal dan literal ke dalam parafrase yang lebih panjang, kompleks, dan nonliteral. Matriks adalah bersifat hipotetik. Matriks mungkin dioptimasikan dalam satu kata yang tidak pernah diaktualisasikan secara utuh di dalam teks, tetapi diaktualisasikan dalam bentuk varian-varian, ketidakgramatikalan (ungrammati-calities). Bentuk varian sebagai aktualisasi pertama atau aktualisasi pokok dari matriks adalah model. Bagi Riffaterre, matriks, model, dan teks merupakan varian dari struktur yang sama.
Riffaterre mengajukan gagasan produksi tanda (production sign), yakni produksi tanda puitik ditentukan oleh derivasi hipogramatik: satu kata atau frase dipuitiskan ketika kata atau frase itu mengacu pada sekelompok kata yang telah ada lebih dahulu, satu hipogram yang juga merupakan satu varian dari matriks teks (Riffaterre, 1978:23). Hipogram itu tidak ada di dalam teks. Hipogram itu mungkin bersifat potensial yang tampak dalam bahasa seperti presuposisi, klise-klise, serta sistem deskriptif, yakni satu jaringan kata-kata yang dihubungkan dengan satu hal lain di sekitar kata inti, atau bersifat aktual dalam wujud mitos-mitos atau teks-teks lain yang telah ada sebelumnya (Riffaterre, 1978:23—39).
            Menurut Riffaterre (1978:47—80), dalam rangka produksi teks, aktualisasi produksi tanda dari hipogram-hipogram di atas diintegrasikan oleh ekspansi, konversi ataupun kombinasi antara ekspansi dan konversi. Ekspansi mentransformasikan bagian-bagian kalimat matriks ke dalam bentuk-bentuk yang lebih kompleks. Konversi mentransformasikan bagian-bagian kalimat matriks melalui pemodifikasian kesemuanya dengan faktor yang sama. Dengan kata lain, pemaknaan (significance) akan menjadi volarisasi positif dari satuan semiotik tekstual apabila hipogram adalah negatif, dan volarisasi negatif terjadi apabila hipogram itu positif. Demikianlah Riffaterre memahami puisi sebagai ekspresi bahasa secara tidak langsung dan bersifat hipogramatik

Sabtu, 23 Februari 2013

TEORI STRUKTURAL

Berbicara tentang sastra, tentu akan terkait dengan analisis sastra atau kajian sastra. Akan tetapi, untuk melangkah ke dalam sebuah analisis perlu dituntun oleh teori-teori sebagai landasan berpikir serta untuk memperjelas konsep terhadap sebuah karya sastra. Teori-Teori yang sering digunakan dalam analisis sastra, misalnya; teori struktural, semiotik, estetika, stilistika, intertekstual, wacana sastra, hermeneutika, dan lain-lainnya.

Nah, di bawah ini dapat dipahami uraikan terkait dengan teori struktural. Selamat membaca!

Di bidang ilmu sastra, penelitian struktural dirintis jalannya oleh kelompok peneliti Rusia, antara tahun 1915 sampai tahun 1930. Mereka biasanya disebut kaum Formalis. Konsep dasar kaum Formalis antara lain keinginannya membebaskan ilmu sastra dari kungkungan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sejarah atau penelitian kebudayaan. Tujuannya adalah kaum Formalis mencari ciri khas yang membedakan sastra dengan ungkapan bahasa yang lain dan sarana-sarana yang secara distinktif dimanfaatkan oleh penyair. Ciri khas sastra itu disebutnya literariness, yakni ciri-ciri yang membuatnya menjadi sebuah ciptaan sastra. Bahan puisi bukanlah imaji atau emosi, melainkan kata-kata. Puisi adalah tindak bahasa atau kata. Puisi adalah pemakaian bahasa yang terarah ke tanda-tanda, bukan ke kenyataan (Teeuw, 1988:128─130). Dalam karya sastra, bahasa tidak diarahkan kepada apa yang ditunjuk dalam dunia eksternal (fungsi praktis), melainkan kepada tanda itu sendiri (fungsi poetik) (Abdullah, 1991:6). 

 Kaum Formalis memandang karya sastra sebagai sistem sarana. Karya sastra dipandang sebagai tanda, lepas dari fungsi referensial atau mimetiknya. Karya sastra dianggap sebagai tanda yang otonom, yang hubungannya dengan kenyataan bersifat tidak langsung. Sehubungan dengan itu, peneliti pertama-tama bertugas meneliti struktur karya sastra yang kompleks dan multidimensional berdasarkan pemahaman bahwa karya sastra dibangun dalam struktur yang utuh dan lengkap, yang keutuhan dan kelengkapannya didukung dan dibina oleh dirinya sendiri. Segenap unsurnya, masing-masing memiliki koherensi intrinsik, satu unsur dengan unsur yang lain saling berkaitan, saling mendukung, saling menyusun dengan tata aturannya sendiri. Hal ini berarti bahwa analisis struktural terhadap suatu karya sastra dilakukan dengan memusatkan amatannya hanya pada karyanya, mengungkapkan unsur-unsur pembangun strukturnya dengan menelitinya secara cermat dan mengamati bentuk pertalian antarunsur yang membangun-nya menjadi satu struktur yang utuh, bulat, dan menyeluruh (Teeuw, 1988:130; Chamamah, 1991:15─16). 

 Kaum Formalis tidak membatasi diri pada studi puisi, tetapi juga roman dan cerita pendek, seperti dilakukan Shklovsky (Teeuw, 1988:131). Dalam rangka penelitian struktur naratif, kaum Formalis mengembangkan oposisi antara fabula (story) dan siuzet (plot) sebagai sarana penting dalam penelitian. Konsep fabula (story) dan siuzet (plot) dikemukakan untuk membedakan bahan mentah sastra dan penyusunan kembali bahan-bahan mentah itu secara estetik di dalam fiksi naratif. Dasar pembedaan kedua istilah tersebut berawal dari satu perbedaan perlakuan mengenai penyebab dan akibat. Di dalam fabula (story), kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa dihubungkan secara bersama-sama menurut penyebab dan akibatnya. Di dalam siuzet (plot), peristiwa-peristiwa disusun ulang melalui penghancuran keteraturan kronologis dan hubungan kausal (Makaryk, 1993:632). Karena itu, dalam karya sastra seringkali dimanfaatkan sarana-sarana untuk menjadikan jalan cerita yang wajar itu menjadi aneh atau asing (defamiliarisasi). Sarana itu mengasingkan karya. Hal itu terjadi, baik dalam karya puisi maupun prosa (Teeuw, 1988:131). 

 Persoalan mendasar adalah bagaimana mengintegrasikan penilaian dalam pendekatan struktural yang menganggap teks sebagai satu koherensi, kebulatan makna, dan keseluruhan struktur ke dalam satu pendekatan historis yang sinkronik dan diakronik sehubungan dengan sastra sebagai sistem tanda dan menempatkan karya sastra pada pusat tanpa melepaskannya dari latar belakang sosial budaya. Karena itu, dalam penelitian ini, gagasan dasar teori struktural di atas tidak diabaikan sepenuhnya, tetapi dikembangkan lebih luas. Kecendrungan suatu teks ke arah sebuah tanda yang otonom dikurangi. Dari sudut pandang struktural, penelitian ini mengikuti pandangan Strukturalisme Praha, yakni memandang karya sastra sebagai suatu proses komunikasi, sebagai suatu dialog terus-menerus antara pengarang dan pembaca. Tanda tekstual mempertahankan kemerdekaan-nya dengan perhatian pada proses komunikasi. Meskipun posisinya dalam proses komunikasi adalah sentral dan merdeka, teks kehilangan karakter absolutnya, yakni konstruksi formal yang ditetapkan selamanya (Segers, 1978:35—36). Proses komunikasi antara pengarang dan pembaca dapat dipahami melalui pemahaman karya sastra sebagai artefak dan objek estetik. Artefak merupakan dasar material objek estetik. Objek estetik merupakan representasi artefak dalam pikiran pembaca atau dalam apa yang disebut kesadaran kolektif, yang dalam suatu ruang kesadaran sekelompok manusia dapat disistematisasikan. Dengan demikian, karya sastra sebagai artefak memiliki nilai potensial. Pembentukan objek estetik yang berdasarkan artefak terjadi melalui peran serta aktif penerima. Pembentukan objek estetik oleh pembaca disebut konkretisasi (Ingarden dalam Segers, 1978:36—37). 

 Proses komunikasi pengarang dan pembaca dibina dan ditentukan oleh kode. Kode yang dipilih pengarang dan diketahui atau sebagian diketahui pembaca memungkinkan pembaca untuk mengkode kembali tanda-tanda tekstual dan mengaitkan makna dengan materi teks (Segers, 1978:24). Karya sastra merupakan aktualisasi seperangkat konvensi. Kepentingan konvensi bagi sebuah karya sastra adalah untuk dapat dikenali oleh pembaca. Gejala ini dimanfaatkan oleh pengarang. Pemilihan konvensi sastra tertentu merupakan pengarahan oleh pengarang kepada pembaca. Penggunaan konvensi yang berkenaan dengan pembaca diharapkan dapat ditangkap makna teks seperti yang dimaksud. Akan tetapi, diingat pula bahwa horison harapan pengarang tidak selalu sama dengan horison harapan pembaca. Walaupun demikian, pemenuhan dan pemberontakan terhadap konvensi merupakan bagian dari proses komunikasi antara pengarang dengan pembaca (Chamamah, 1991:17). Yang penting di sini adalah kode yang dibuat pengarang dapat dipahami penikmat (Abdullah, 1991:12).


Selasa, 15 Januari 2013

Fenomena Bahasa Bali: Menyikapi Kurikulum 2013

Bahasa Bali sebagai bahasa daerah atau bahasa Ibu -- dahulu ketika masih digunakan dalam lingkungan keluarga. Namun sekarang tentu tidak demikian adanya, karena justru yang menjadi bahasa Ibu bagi anak-anak masyarakat Bali adalah bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Bali adalah sebagai bahasa asing kedua bagi mereka. Keadaan ini seakan menjadi ironis, mengapa? Karena bahasa Bali sebagai bahasa daerah justru tidak mendapatkan prioritas dan termarginalkan dalam kehidupan masyarakatnya. 
Merenungi fenomena bahasa Bali

"Ke depan, bahasa Bali diharapkan agar lebih didorong ke arah kompetisi nasional bahkan menjadi sebuah kompetisi internasional. Karena bahasa Bali merupakan sebuah sistem kebahasaan, selanjutnya bahasa Bali untuk budaya yang berfungsi sebagai akar pelestari kebudayaan Bali, tidak seyogyanya tergusur oleh sistematika bahasa nasional ataupun bahasa asing lainnya. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal,

Minggu, 09 Desember 2012

Ada apa di Kurikulum Baru Tahun 2013?


Jani kone madan bulan Desember taun 2012, buin abulan iraga suba lantas lakar ngenjekin taun baru, yen basa alusne Warsa Anyar kone adanne. Jani anake ane magama Kristen utawi Katolik suba lakar nyambut Hari Natal di tanggal 25 Desember 2012 tenenan. Jeg dikayang ento liu suba pada anake lakar 'happy-happy' kema-mai pesu mlali. Ada ane sibuk meli mercon, ada ne iteh meli kembang api lakar anggona nyambut di taun baru 2013'e. Nah sakewala yen cara i dewek suba dadi 'dagang benang' buka kene, madan kone maburuh ngajahin, kwala yen alihang di jeneng, sebenehne joh teken madan 'guru pangajian', kwala baan pongah nganggo sepatu teken tas kompek bek masek-sek misi buku, teken kertas bonan gen!hehe.. suba lantas kone adanne dadi 'guru'. Maan lantas ngajahin dini-ditu, yadin maan abedik, yen umpamayang buka sesonggane "nultul damuh tengaine", kanggoang masih... kakeneh baan i dewek mapan keweh cara janine ngalih gae, yen sing jemak rugi ngelah espede (S.Pd), anake nyimbingang "Sarjana Penuh Derita". Beehhh... jeg keneh-kenehang nyak asanne to...

Kwala yadin keto, saluir gegaen suba pasti lakar ada kewehne, cara gendingne AA Raka Sidan, "...sing ada gegaen ento aluh... tuyuh, nambunin (nambunang) pipis pang mapunduh". Ulian dasar keto lantas, jeg semangat magae, pesu semeng mulih peteng, saget pesu teduh mulih semeng... hehee... nak maan malali ja ajak timpale!

Wireh bes sesai tuah majujuk dadi model di malun muride, lantas demen tur matanem rasa sujati dadi guru, wireh ane ajahin tuah saja palajahan ane nyihnayang iraga tresna tur ada rasa bangga ngwerdiang , nglimbakang tur ngajegang plajahane totonan,,, i dewek tuah ngajahin palajahan Basa Bali, ane ketah palajahane ento tuah ngranjing di paosan Mata Pelajaran Muatan Lokal, wireh ento tuah palajahan basa daerah kadanin. Jati-jati lantas seleg tur jemet ngajahin, keto masih muride anteng malajah, krana demen malajahin basanne padidi ketimbang iraga malajahin basa ane lenan. Cerik-cerike pepesan mara lakar ajahin ngorahang, "Iraga nak Bali, idup di Bali, mati pang di Bali, kwala apang bisa mabasa Bali...", keto lagun cerik-cerike, jeg pangus sajan magending jeg nyak cara penyanyi Pop Bali baana magending. Mirib baan leganne ia lakar nerima palajahan, dadinne berekspresi ia buka keto, wireh bes pepes sajan masih jumahne mabalih TV, nepukin lantas iklan "EKSPRESIKAN GAYA LOE!". Pehhh... jeg prajani cara bikul pisuhin nyanget-nyangetang tingkahne muride masolah keto.

Nah keto malu tuturang dugase ane suba malu-malu. Lantas dingeh isu (isu = kabar burung, sing tawang seken apa sing, hehee...), taun 2013 kurikulum ane lama ane madan KTSP, lakar maentungang (wireh sing kanggo), alias maganti. Buina di kurikulume ento di jenjang pendidikan tertentu liun palajahane lakara makuangin uli liun dugas KTSP ane malu. Miiihhh.... mara dingeh keto suba, dag dug dag dug... dingeh anake magambel dajan umahe!!hee... jeg nyak masih seirama ajak munyin ulu atine... kwala nden pragat masi satuane. Lantas ane makrana makesiab (buka i dewek maca tuture tenenan di www.beritakaget.com), basa daerah ane mula cara basa Bali, muah basa daerah ane lenan lakara kaapus (boya ja 'nguluk-uluk artine), alias dihapus dari kurikulum ento.. hee pang aluh ngorhanag!

Mara keto,,, mimiiihhh.... jeg makriet-kriet gigine (tusing ja krana naar poh ane masem) kwala sakeng sing ngerti ajak isin untek jlemane ane ngomong keto. Dadi palajahan basa daerah kone ilanganga, tusing buin kaajahin teken murid-muride!!! Ento dong cara ngambulang sok uek, ngrugiang iraga  padidi... sebenehne basa daerahe ento suba patut ajegang anggon mikukuhin basa Indonesia, krana puncak-puncak kamahatmian budaya apa buin basa daerahe tuah ngae kautaman basa Indonesia pinaka identitas bangsa!!! To jeg nguda jani mbalik kuri??!!! Ane makada panes (mula ja gumine panes gen ngwai, sajaba di Bukit Lempuyang gen mara tunian suud ujan.. hehe),,, basa Baline pinaka basa ibu yen liunan anake ngorahang, masi dadi korban... basa Bali ane ngelah kearifan lokal buina kadasarin baan agama budaya, ngae Baline kaloktah di dura negara, lenan ken ento kanti Baline kasengguh "Pulau Surga" muah ne lenan, jana Baline kone ramah-ramah, tusing remeh-remeh teken anak. Krana iraga madasar baan etika, nilai moral anggon dasar iraga makeneh, mamunyi muah matingkah. Yen dadi baan, jani iraga prioritasang basa Bali ento, wajib di sekolah-sekolah nganggon basa Bali, wajib mabasa Bali di sekuub sekolahe ento, anggon basa pagubugan! Mara Jempolll...!!! Ene jeg mailangang kone basa Baline uli kurikulume, apa lakar ajahin muride? Guru-guru ane pidan nyemak palajahane ento kija lakar aba??? Madagang bakso, madagang canang, dadi pamulung, dadi gegendong, apa dadi apa????

Pehhh... keweh baana!!!
Ne ba jani dadi pro kontra... kwala jani yen dadi baan,,,  cara i dewek dadi wong cilik kene... sanget gati ngidih, apang BASA BALI pinaka MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL tusing kailangang uli kurikulume, yen ada mirib ane singsal dugas palaksanan pidan, lang jani benehin apang nyak patut!
Eda ngambekang kita... patut jani pineh-pinehin satonden "nasi jadi bubur" kone!!! hee..
BASA BALI... Duen sameton Bali! Mangda Satata Ajeg!!! 

Selasa, 30 Oktober 2012

Agom VS Balinuraga

Agom VS Balinuraga
Gumi sayan wayah, kahanan jagate taler sayan panes, ngawinang saluiring papineh lan pangrasa sampun ngambara antuk sayonge sane baret. Sapunika taler kahanan janane sane wenten ring Lampung Selatan, pamekas ring Balinuraga. Sameton iraga Etnis Bali sane makehan meneng irika katiben bancana sane ngwetuang rasa sebet, duaning makeh sayuakti jana Balinuraga irika padem antuk panglurug jana Agom. Manut gatra sane kapiragi antuk titiang, wiwitan kawentenan bancana punika wantah ring rahina sane lintangne, wenten anak bajang kalih diri makta sepeda motor saking krama Agom kapelagang antuk para truna Bali saking krama Balinuraga, raris ngawinang anak istri sane daa punika runtuh tur sepeda motoripun lecet.

Majalaran antuk punika, sayuakti makehan krama sane nenten nrima sapratingkah truna-truna Balinuraga raris rauh maduluran kroda sinambi makasami nadtad gegaman pinaka sanjata sakadi cerurit, pedang, golok, parang miwah sane lianan. Raris makasami jumujug ka genah Balinuraga, irika raris siat saking krama Agom miwah Balinuraga nenten dados amerin malih. Saling sempal, saling sabat, saling cak-cak, benyah ajur, dek-dek lidek wewangunan irika kageseng antuk massa sane kroda punika. Indike punika wantah duk rahina Saniscara, tanggal 27 Oktober 2012 raris ngawinang tigang (3)  diri janane ngemasin padem. 

Duaning nenten nrima kakaonannyane, raris panyiuan krama saking Agom, Lampung Selatan miwah pupulan jana sane nenten kauningin identitasnyane mawali ngrauhin jana Balinuraga sane dominan Etnis Bali ukuh ngwales kakaonanipun. Malih raris macedar siate nenten kapalasang malih. Antuk punika rahina Soma, tanggal 29 Oktober 2012 malih ngwetuang jana sane padem inggian punika makatah enem (6) diri. 

Nanging manut pamargi gatra kantos rahina Anggara, tanggal 30 Oktober 2012, sampun makatah patbelas (14) diri sane padem antuk insiden punika, taler petang dasa kutus (48) umah sane kageseng samaliha tigang dasa tiga (33) sane rusak.

Sajeroning insiden punika mangda raris mrasidayang ngetus suksma sane gumanti sida anggen titi pangancan turmaning sipat siku-sikuning iraga makrama, mangda sida ngwetuang kumanyama ring sanak lianan. Duaning  papineh lan pangrasa sanak lianan sami mabinayan, mangda taler iraga mrasidayang ngajinin, sampunang pisan ngambekang sapakayun ngraga. Duaning akidik wicara, akidik bebaosan, miwah akidik parilaksana nenten manut utawi kaon ring sanak linan pacang ngwetuang pikobet, panampen sane prasida pacang ngawe buncul iraga newek miwah sanak sane nenten madue iwang. Napi malih kantos ngawinang padem ring sameton krama, punika banget pisan kasayangang. Dumadak Ida Sang Hyang Widi sih asung kerta wara nugraha mapaica karahayuan lan karahajengan majeng ring damuh sami, raris prasida jana sane kabancana miwah sane mancanain prasida kumanyama malih, nenten malih marebat, nenten malih wenten erang napi malih pacang mangrusak. Sapunika taler banget pangapti titiang majeng ring Pamerintah sane ngwawa jagat irika utawi ring dija magenah, mangda prasida muputang prakara sakadi punika kantos yukti-yukti nenten malih wenten pikobet ring krama, mangda raris benjang pungkur prakara sane sampun lami utawi lawas malih dados metu anggen jalaran pacang mencanen miwah ngrusak pasametonan. Mogi sami makayun becik, sida muponin kaledangan kayun.

Pangaptin titiang pinaka yowana Bali sane gumanti ngaptiang santi ring manah, santi ring jagat sekala, sapunika taler mangda santi ring gumi wayah,,,  ring kahuripan punika sayuakti sampun akeh pikobet sane ngapiambeng iraga, akeh gegodan, msl talre mangda sida sameton akeh madue pawilangan miwah satata muponin turmaning ngmargiang parilaksana sane sadu dharma, angawe sukaning wong len, saling asah, asih, asuh,,, paras-paros sarpanaya, sagilik-saguluk, saluung-luung sabayantaka... taler satata ngmargiang ajahan Tat Twam Asi... lamakane sida mangguh santi,,, damai,,, astungkara!

Sameton yowana sami, yadiastun iraga mabinayan ras, etnis, agama, budaya, basa nanging iraga kantun tetep  pinaka Wangsa Indonesia, WNI... 

Senin, 29 Oktober 2012

Sejarah dan Perkembangan Bahasa Bali



I Wayan Jatiyasa, S.Pd
Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah di negara Indonesia yang dipelihara dengan baik oleh masyarakat penuturnya, yaitu etnis Bali. Bahasa Bali sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama bagi sebagian besar masyarakat Bali, dipakai secara luas sebagai alat komunikasi dalam berbagai aktivitas di dalam rumah tangga dan di luar rumah tangga  yang  mencakupi berbagai aktivitas kehidupan sosial masyarakat Bali. Oleh karena itu, bahasa Bali merupakan pendukung kebudayaan Bali yang tetap hidup dan berkembang di Bali. Dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Bali didukung oleh lebih kurang setengah juta jiwa dan memiliki tradisi tulis sehingga bahasa Bali termasuk bahasa daerah besar di antara beberapa bahasa daerah di Indonesia.
Keberadaan bahasa Bali memiliki variasi yang cukup rumit karena adanya sor-singgih yang ditentukan oleh pembicara, lawan bicara, dan hal-hal yang dibicarakan. Secara umum, variasi bahasa Bali dapat dibedakan atas variasi temporal, regional, dan sosial. Dimensi temporal bahasa bali memberikan indikasi kesejarahan dan perkembangan bahasanya meski dalam arti yang sangat terbatas. Secara temporal bahasa Bali dibedakan atas bahasa bali Kuno yang sering disebut deengan bahasa Bali Mula atau Bali Aga, bahasa Bali Tengahan atau Kawi Bali, dan bahasa Bali Kepara yang sering disebut Bali Baru atau bahasa Bali Modern.

Minggu, 28 Oktober 2012

Sumpah Pemuda


Sumpah Pemuda wantah sinalih tunggil bukti otentik inggian punika duk tanggal 28 Oktober 1928 Wangsa Indonesia kamijilang, punika mawinan iraga maka sami pinaka warga Indonesia eling ring momentum 28 Oktober pinaka rahina mijilnyane Wangsa Indonesia, kamijilan Wangsa Indonesia punika wantah pikolih saking perjuangan sameton warga sami sane salami satus warsa sampun karumasa sengsara duaning daweg punika iraga wantah kawawa olih kaum kolonialis, kahanan iraga sane pinaka "budak ring pertiwi" iraga newek punika raris ngwetuang wirang ring para yowana Indonesia duk punika gumanti nyikiyang pakayunan pacang mabela negara, pakayunan sane nunggil ring soang-soang angen sameton warga Indonesia punika raris pinaka semaya perjuangan warga Indonesia raris kantos Wangsa Indonesia ngamolihang mahardika duk tanggal 17 Agustus 1945, nepek ring 17 warsannyane.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Bahasa Bali "Kasepekang" oleh Penuturnya


Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ketut Suastika mengungkapkan, jumlah penutur berbahasa daerah Bali di Pulau Dewata tergolong minim.

"Diperkirakan, penutur berbahasa daerah Bali kini jumlahnya kurang dari satu juta jiwa," kata Kadisbud Suastika di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, jika dibandingkan dengan penduduk Bali yang hampir mencapai empat juta jiwa, jumlah penutur sebanyak itu tentu tidak baik bagi kelangsungan dan kelestarian sebuah bahasa daerah.

Suastika menyebutkan, di lingkungan sebagian keluarga muda saat ini sudah sangat jarang yang menggunakan panggilan "meme-bapa" sebagai nama panggilan ibu dan ayah. Mereka lebih senang menggunakan panggilan dalam bahasa Indonesia.

"Memang tidak salah jika masyarakat Bali menggunakan bahasa Indonesia dan bahkan bahasa asing, tetapi mestinya tetap harus dikombinasikan dengan bahasa Bali," ucapnya.

Suastika menambahkan, jangan sampai orang Bali akhirnya tidak bisa berbahasa Bali karena telah melupakan "bahasa ibunya".

"Ke depan, saya melihat perlunya menggunakan bahasa Bali pada lingkungan kerja dan pendidikan. Atau istilahnya bisa dibuat semacam satu hari berbahasa Bali. Jadi setiap minggu, ada satu hari khusus yang mewajibkan para pekerja maupun pelajar harus berkomunikasi menggunakan bahasa Bali," ujarnya.

Dengan cara seperti itu, kata Suastika, setidaknya bagi anak-anak yang di lingkungan keluarga tidak pernah menggunakan dan bahkan tidak bisa berbahasa Bali, menjadi dapat mengenal bahasa daerahnya sendiri.

"Melalui cara ini, selain sebagai pengenalan kepada generasi penerus, sekaligus juga menjadi upaya pelestarian," ucapnya.

Rencananya, lanjut dia, pada Oktober 2011 akan dilangsungkan Kongres Bahasa Bali. Acara ini merupakan forum lima tahunan yang membahas tentang bahasa Bali dan juga bahasa daerah lainnya.

"Dalam kongres itu, persoalan bahasa dan aksara Bali yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Bali akan coba kami bahas, sehingga dapat dihasilkan strategi pemecahannya," katanya.


Jumat, 05 Oktober 2012

Pan Angklung Gadang (1)


           Kacrita koné di Désa Anu, ada anak madan Pan Angklung Gadang. Yén jemak digoba jlemané mula bocok, yén dijejeleg tusing masi lanjar tuah sada ngrengked paukudané. Ia mapi-mapi belog, mirib cara anak tuara nawang kangin kauh, sakéwala yén tlektek dayanné kerepan tekén bulun méng, cendek, tusing kalah baan metukin wiréh dayané Mamungkling . Pan Angklung Gadang ia koné mamarekan di purian.
            Kocapan sedek dina anu, Ida Anaké Agung mapikayun lakar lunga ka gunung, tumuli ngandikain Pan Angklung Gadang, “Bapa, Pan Angklung Gadang, gelah jani lakar luas ka gunung, kema Bapa ngétéh-étéhin jaran gelahé apang énggal!”
            “Inggih, sapangandikan Cokor I Déwa titiang sairing,” kéto atur Pan Angklung Gadang, nglaut bangun ngénggalang nyemak jaran palinggihané, tur kaétéh-étéhin kapasangin kekepuh, kundali, ambed ikut muah canggah bias. Makejang totonan pada mablongsong slaka. Disubané pragat, lantas Pan Angklung Gadang matur, “Inggih, Ratu Déwa Agung, puniki sampun puput antuk titiang, durusang Cokor I Déwa munggah!”
            Anaké Agung lantas ngamunggahin kuda tur sasubanné malinggih di tundun jarané buin ngandika, “Bapa, Pan Angklung Gadang, kema jemak pacanangan gelahé, jalan jani Bapa luas ka gunung iringang anaké buka gelah!”
            “Inggih, sandikan Cokor I Déwa.” Kéto aturné Pan Angklung Gadang. Ditu lantas Ida Anaké Agung manglinggihin jaran maalon-alonan, kairing baan Pan Angklung Gadang negen kompék pacanangan.
Gelisin satua, pamargin Ida Anaké Agung manglinggihin kuda kairing olih Pan Angklung Gadang, suba koné joh ngliwat désa, sagét macepol blongsong ambed ikut jarané, nanging tusing duduka tekén Pan Angklung Gadang. Kacrita jani suba koné di gunung, tumuli Ida tedun sakéng kudané tur kacingakin kudané makocogan pesu peluh. Wau kawaspada olih Ida, kandugi kacingak panganggén kudané kuang, blongsong ambed ikutné kecong, raris Ida ngandika, “Ih, Bapa Pan Angklung Gadang, sawiréh Bapa majalan dorian, tusing ké Bapa nepukin blongsong ambed ikut jarané kecag?”
Matur Pan Angklung Gadang, “Inggih Ratu Déwa Agung, wantah kantenang titiang, sakéwanten tan wénten purun titiang ngambil punika, santukan durung wénten pangandikan Cokor I Déwa.” Mara kéto aturné Pan Angklung Gadang, ngandika Ida Anaké Agung sada bangras tekén Pan Angklung Gadang, “Dong, Bapa Pan Angklung Gadang, nguda sih Bapa belog pesan. Suba tepukin Bapa slakané ulung, nguda tusing ada keneh Bapané nuduk, nagih orahin dogén. Nah, mani puan, yén Bapa ngiringang gelah, lamun ada macepol uli jarané, duduk men énggalang, penpen di kompéké!”
“Inggih, sapangandikan Cokor I Déwa titiang sairing.”
Tan kacrita Ida Anaké Agung di gunungé, jani suba lingsir, raris Ida Anaké Agung mapakayunan pacang mantuk saha ngandikain parekan, “Bapa, Pan Angklung Gadang, tragianang jarané, étéh-étéhin, gelahé lakar mulih né jani!”
Pan Angklung Gadang matur, “Inggih.” Laut bangun ngénggalang nyemak jaran tur kaétéh-étéhin. Di subané pragat, lantas ia matur, “Inggih Ratu Déwa Agung, puniki sampun puput antuk titiang mayasin kudan Cokor I Déwa, durusang munggah!” Lantas koné Ida Anaké Agung nglinggihin kuda adéng-adéng kairing baan Pan Angklung Gadang negen kompék pacanangan.
Kacrita suba koné jani rauh di tepin désané, sagét ada pacepolpol ulung uli di jarané. Mara tepukina tekén Pan Angklung Gadang, tusing nolih buin laut koné éncol duduka tur kapenpen ka kompék pacanangané, tur kategen laut majalan. Nglanus pamargan Ida, critanan sagét suba rauh di bancingah, raris tedun Ida saking kuda saha mangraris ka purian. Kompéké ané tegena baan Pan Angklung Gadang lantas timbalina tekén panyeroané tur kagenahang di plangkan ambéné. Pan Angklung Gadang ngembusin étéh-étéh jarané nglaut nyutsut peluhné.
Kacrita jani Ida Anaké Agung malinggih di plangkané makayunan ngrayunang sedah, laut Ida ngungkabang kompék. Wau ungkabang Ida, tengkejut Ida nyingakin kompék pacanangané bek masegseg misi tain jaran. Ida Anaké Agung kamemegan, ngraris menggah piduka saha nauhin Pan Angklung Gadang.
Égar kenehnyané Pan Angklung Gadang parek masila tiding, kasengguh lakar kaicén lungsuran. Mara ia masila tur nunas lugra lantas Ida Anaké Agung ngadeg nglaut ninjak tendas Pan Angklung Gadangé, kadulurin pangandika banggras, “Kaki kléwaran ibané ngajahin sangkan bisa iba menpenin kompék gelahé tain jaran?” Mara amonto Ida ngandika, buin ningtingan cokor ukuh ninjak, énggalan kagelut cokor Idané tekén Pan Angklung Gadang sambilanga matur sisip, “Inggih Ratu Déwa Agung, duaning Cokor I Déwa ngandikain titiang, “Lamun ada ulung uli di jarané, duduk nyen, penpen di kompéké!” Asapunika pangandikan Cokor I Déwa ring titiang. Sané i wau wénten kantenang titiang macepol saking kudané, raris duduk titiang tur genahang titiang ring kompék pacanangané. Inggih sané mangkin, yéning titiang kabaos sisip, durusang puputang titiang né mangkin!”