Aksara, Basa, lan Sastra Bali

"Om Swastyastu, swasti prapta aturang titiang majeng ring para sameton blogger sami, durusang macecingak ring blog titiang, pinaka anggen jalaran masadu wirasa, mogi-mogi wenten pikenohnyane"

Selasa, 22 Mei 2012

Klasifikasi Sastra Bali


       Untuk lebih memahami tentang jenis-jenis sastra Bali, maka dengan ini saya mencoba menguraikan sastra Bali dari 4 (empat) tinjauan, yaitu sastra Bali: (1) berdasarkan kondisi empiris dan pragmatis, (2) berdasarkan cara, teknik/tradisi penyajian, (3) berdasarkan struktur penulisan, dan (4) berdasarkan struktur, corak dan waktu pertumbuhkembangannya. untuk lebih jelasnya dapat dipaparkan sebagai berikut.

1.      Berdasarkan Kondisi Empiris dan Pragmatis
Berdasarkan kondisi empiris dan pragmatisnya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a.       Secara Struktural
Secara struktural sastra Bali merupakan himpunan dari karya-karya sastra yang berbahasa Bali, baik bahasa Bali Tengahan maupun bahasa Bali Baru. Tinjauan ini didasarkan atas konstruksi yang membentuk suatu bangun karya sastra Bali. Bahasa nerupakan aspek mendasar dalam mengkonstruksi suatu karya sastra dan selanjutnya dapat memberikan ciri khas terhadap karya sastra tersebut yang dapat membedakannya dengan karya sastra lain. Begitu juga halnya dengan bahasa Bali.
Sebagai aspek mendasar dalam mengkonstruksi karya-karya sastra Bali, bahasa Bali dapat menjadi suatu ciri khas bagi karya-karya sastra lainnya. Adapun contoh dari karya-karya sastra Bali yang termasuk dalam kategori ini adalah gegendingan/dolanan, pupuh (geguritan), pralambang (pribahasa), babad, satua, cerpen, novel, roman, drama dan  puisi-puisi  Bali modern.

b.      Secara Fungsional
Secara fungisonal, di samping merupakan karya-karya sastra yang berbahasa Bali, sastra Bali juga meliputi karya-karya sastra (yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi). Tinjauan ini didasarkan atas penggunaan karya-karya sastra Jawa Kuna dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Bali, terutama pada aspek relegi ataupun keagamaan. Sastra Jawa Kuna memiliki kedudukan yang signifikan dalam aktivitas relegi atau keagamaan (Hindu) pada masyarakat Bali. Bahkan, karya-karya sastra Jawa Kuna tersebut telah dianggap sebagai “milik” masyarakat Bali karena adanya kedekatan maupun keakraban terhadap karya sastra tersebut.
Adapun contoh karya-karya sastra Jawa Kuna, sebagai karya sastra Bali secara fungsional tersebut adalah kidung, wirama, palawakia, kanda-kanda dan parwa-parwa.

2.      Berdasarkan Cara, Teknik, atau Tradisi Penyajian
Klasifikasi sastra Bali berdasarkan cara, teknik, atau tradisi penyajiannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu: sastra lisan dan sastra tulis.

a.       Sastra Lisan (Sastra Gantian, Sastra Tutur)
Menurut Wayan Budha Gautama, sastra lisan juga disebut kesusastran pretakjana (2007: 31). Sastra Bali dalam bentuk lisan merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai teks-teks yang disampaikan secara oralty, yaitu dari mulut ke mulut antara penutur dan pendengar. Proses dalam penyampaian tersebut berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi dalam berbagai versi maupun variasi.
Dalam perkembangannya, sastra (Bali) lisan tersebut telah banyak yang ditulis. Di samping itu, karya-karya tersebut juga ditransformasikan ke dalam bentuk karya sastra tulis, seperti ke dalam geguritan dan peparikan. Sastra Bali dalam formulasi ini juga dapat dikaji melalui perspektif folklor, yaitu suatu ilmu tentang budaya, yang cenderung sebagai budaya lisan, yang telah mengakar pada susatu masyarakat tertentu. Adapun yang termasuk ke dalam sastra lisan ini adalah tembang ( puisi ) berupa gegendingan/dolanan dan gancaran (prosa) berupa satua-satua Bali.
Contoh sastra lisan dalam bentuk tembang ( puisi ), yaitu gegendingan atau nyanyian anak-anak (made cenik, goak maling taluh,dan lain-lain).

Contoh lisan dalam bentuk gancaran ( prosa ), diantaranya Satua Pan Balang Tamak, Satua I Siap Selem, Satua I Bawang Teken I Kesuna, Satua Men Cubling, Satua Pan Angklung Gadang, dan lain-lain.

b.      Sastra Tulis (Sesuratan)
Sastra tulis (sesuratan) juga dikenal dengan nama “kesusastran sujana” oleh Wayan Budha Gautama (2007: 32). Satra Bali dalam bentuk tulis merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai teks-teks yang tertuang dalam naskah-naskah tulisan tangan (manuskrips) maupun cetakan, baik berupa lontar, tembaga, maupun kertas. Sastra tulis ini merupakan perkembangan dari sastra lisan sebelumnya ketika masyarakat Bali telah mengenal aksara (huruf).
Sastra lisan lebih mementingkan makna yang terkandung di dalamnya daripada bentuk yang tersaji, sedangkan sastra tulis, adanya bentuk yang tersaji secara tertulis tersebut merupakan suatu rangkaian tanda yang dapat menjadi jembatan untuk menelusuri jejak-jejak makna yang terkandung di dalamnya. Adapun yang termasuk dalam sastra tulis yaitu:
(1)   Terikat, yaitu tembang ( puisi ); sekar rare (gegendingan/dolanan), sekar alit (pupuh), sekar madya (kawitan/kidung), dan sekar agung (wirama) serta peparikan.
(2)   Bebas, yaitu gancaran ( prosa ) dan babad.

3.      Berdasarkan Bentuk/Struktur Penulisan
Berdasarkan bentuk/struktur penulisannya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) yaitu:  puisi  (tembang),  prosa  (gancaran), dan prosa liris (palawakia).

a.       Puisi (Tembang)
Sastra Bali dalam bentuk  puisi  (paletan tembang) ini merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai suatu karangan dengan pola yang terikat. Seperti karakteristik puisi pada umumnya, kesusastraan Bali dalam hal ini tampil dengan suatu pola yang terstruktur oleh konvensi-konvensi tertentu yang mengikat dan memberikan karakter yang tertentu pula.
Contoh sastra Bali dalam bentuk  puisi  (tembang), yaitu gegendingan/dolanan, pupuh, kidung, wirama, babad dalam bentuk geguritan/peparikan, dan  puisi- puisi  Bali Modern.

b.      Prosa (Gancaran)
Sastra Bali dalam bentuk  prosa (gancaran) merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai suatu karangan (fiksi) dengan pola yang bebas. Dalam hal ini, sastra Bali tampil sebagai suatu karangan yang tidak begitu terikat oleh bentuk yang mengemas seperti pada bentuk puisi di atas. Walaupun demikian, adanya hal-hal mendasar dalam  prosa (fiksi) merupakan suatu struktur atau unsur yang signifikan dalam mengonstruksi karya-karya sastra prosa tersebut.
Contoh sastra Bali dalam bentuk  prosa, yaitu babad, satua, cerpen, novel, dan drama.

c.       Prosa Liris (Palawakia)
Sastra Bali dalam bentuk prosa liris prosa liris (palawakia) merupakan karangan bebas, yang tidak terikat dengan aturan seperti prosodi dan metrum seperti pada puisi (tembang). Palawakia merupakan karangan bebas  yang dibaca dengan cara diiramakan/dilagukan. Umumnya palawakia menggunakan bahasa Jawa Kuna/Tengahan.
Contoh sastra Bali dalam bentuk palawakia, yaitu Astadasa Parwa (dalam Kakawin Mahabharata) seperti Adi Parwa sampai dengan Swarga Rohana Parwa, Sapta Kanda (dalam Ramayana) seperti Bala Kanda sampai dengan Uttara Kanda, dan lain sebagainya.

4.      Berdasarkan Struktur, Corak dan Waktu Pertumbuhkembangannya
Berdasarkan struktur corak dan waktu pertumbuhkembangannya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua), yaitu: (1) sastra Bali purwa (klasik/lama/kuno), dan (2) sastra Bali anyar (baru/modern).

a.       Sastra Bali Purwa
Sastra Bali purwa (klasik/lama/kuno) merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai sastra yang bercorak dan bersifat tradisi atau warisan secara turun-temurun dari masa lampau. Sastra Bali dalam hal ini juga disebut sebagai sastra Bali tradisional sebagai himpunan karya-karya sastra yang dibangun atas struktur tradisional, baik dalam konvensi, tema, tokoh, maupun motif cerita yang ditampilkan. Pada karya-karya sastra tersebut dapat dijumpai adanya nilai-nilai luhur yang telah hidup dan dianut oleh masyarakat Bali sejak masa lampau sabagai nilai-nilai yang adiluhung. Contoh sastra Bali purwa, yaitu tembang, gancaran, dan palawakia.

b.      Sastra Bali Anyar
Sastra Bali anyar (baru/modern) merupakan formulasi dari sastra sebagai suatu pola atau tipologi sastra yang muncul pada masa kolonial dengan adanya pengaruh dari sastra Indonesia maupun Barat. Pada masa kolonial, sastra Barat, seperti novel, cerpen (short story), dan  puisi-puisi  (poetry) Barat, mulai masuk ke Indonesia. Pola-pola sastra tersebut diterima dalam sastra Indonesia melalui suatu adopsi dan adaptasi, sehingga lahirlah sastra Indonesia Modern.
Perkembangan sastra Indonesia yang demikian turut mempengaruhi perkembangan sastra Bali, sehingga pola-pola sastra tersebut juga diinternalisasi ke dalam sastra Bali. Hal ini ditunjukkan oleh lahirnya novel-novel, cerpen-cerpen (satua bawak), maupun  puisi-puisi  Bali modern yang tentunya menggunakan bahasa Bali. Pola sastra tersebut merupakan contoh-contoh dari sastra Bali anyar tersebut. Contoh sastra Bali anyar, yaitu puisi dan  prosa.





 Daftar Pustaka

Antara, I Gusti Putu. 2005. Sastra Bali Purwa. Sebuah buku pengajaran Sastra Bali Purwa D2 PGSD (Kelas Konsentrasi), FIP IKIP Negeri Singaraja. 

Antara, I Gusti Putu. 2008. Prosa Fiksi Bali Tradisional. Singaraja: Yayasan Gita Wandawa.

Gautama, Wayan Budha. 2007. Kasusastraan Bali. Cakepan Panuntun Mlajahin Kasusastraan Bali. Surabaya: Paramita.

Santosa, Wijaya Heru dan Sri Wahyuningtyas. 2010. Pengantar Apresiasi Prosa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Tim Penyusun. 2005. Kasusastran Bali. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Wisnu, I Wayan Gede. 2005. Sejarah Kajian Sastra Bali. Sebuah Pengantar. Denpasar: FPBS, IKIP PGRI Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Wusan Ngwacen sampunang lali maosin iriki! Suksma